.

Selamat Datang di Blog Education_Life jangan lupa berikan comment dan komentar anda.

Rabu, 12 Oktober 2011

Pendidikan Anak Menurut Agama Hindu

Kelahiran anak pada suatu keluarga patut disyukuri karena anak merupakan titipan tuhan yang sangat berharga dan wajib bagi orang tua untuk menjaga serta memberikan pendidikan kepada anak.

Menurut Titib (dalam Suryanto, 2011), dalam bahasa Sanskerta ‘anak’ adalah “putra”. Kata “putra” itu sendiri pada mulanya berarti kecil atau yang disayang, kemudian kata ini dipakai menjelaskan mengapa pentingnya seorang anak yang lahir dalam keluarga:

“Oleh karena seorang anak yang akan menyeberangkan orang tuanya dari neraka yang disebut Put (neraka lantaran tidak memiliki keturunan), oleh karena itu ia disebut Putra”
(Manawadharmashastra IX.138).

Dalam kutipan tersebut kita dapat memahami betapa pentingnya seorang anak atau putra dalam sebuah keluarga terutama bagi orang tuanya, karena anak selain sebagai penerus garis keturunan dan adat-istiadat yang selama ini orang tua jalankan namun anak juga akan menyebrangkan orang tuanya dari neraka yang disebut Put seperti mana dijelaskan di atas.
Ada sebuah kutipan yang sangat berharga dan patut kita pelajari sebagai orang tua serta sebagai seorang anak.

”Seluruh hutan terbakar hangus karena satu pohon kering yang terbakar, begitu pula seorang anak yang kuputra (buruk karakternya), menghancurkan dan memberikan aib bagi seluruh keluarga” (Canakya Nitisastra II.15).

“Seluruh hutan menjadi harum baunya, karena terdapat sebuah pohon yang berbunga indah dan harum semerbak. Demikian pula halnya bila dalam keluarga terdapat putra yang Suputra”
(Canakya Nitisastra II.16).


“Kegelapan malam dibuat terang benderang hanya oleh satu rembulan dan bukan oleh ribuan bintang, demikianlah seorang anak yang Suputra mengangkat martabat orang tua, bukan ratusan anak yang tidak mempunyai sifat-sifat yang baik”.
(Nitisastra IV.6).

Dalam kutipan-kutipan tersebut kita sebagai orang tua diingatkan dan diajarkan betapa pentingnya seorang anak, karena baik buruknya kita dalam mendidik seorang anak akan membentuk karakter anak dalam keluarga dan menentukan citra keluarga dalam masyarakat. Selain anak mendapatkan pendidikan dalam lingkungan sekolah, orang tua juga berperan dalam mendidik dan membentuk karakter anak. Jika anak dalam keuarga di didik dengan kasih sayang dan pendidikan menurut ajaran agama sejak dini swaha anak akan memiliki karakter yang baik dan bila sebaliknya, bila orang tua yang cuek atau tidak memperdulikan atau membiarkan anak berkembang sendiri tanpa ada bimbingan orang tua maka anaknya akan membentuk karakter yang tidak baik, selain sekolah, orang tua, lingkungan pergaulan yang ada diluar rumah juga mempengaruhi perkembangan atau pembentukan karakter seorang anak. Namun sebagai orang tua bukan berarti kita harus mengurung anak hanya dirumah saja dan tidak memberikan kebebasan bagi anak, melaikan memberikan kebebasan namun dalam pantauan atau bimbingan dari orang tua.

Dalam sistem pendidikan Veda, ketika seorang anak kehilangan cinta kasih dari kedua orang tuanya, maka pendidikan di sekolah (dalam pengertian pendidikan Gurukula) menggantikan kasih sayang orang tua tersebut kepadanya. Dalam pendidikan Gurukula ini seorang anak dipisahkan dari keluarga. Kata “Kula” dalam kaitannya dengan Gurukula berimplikasi bahwa seorang anak tidak sepenuhnya dijauhkan dari atmosfir keluarga. Ia kini berubah dari kehidupan dalam keluarga kecil ke dalam keluarga besar. Dalam sistem pendidikan Veda, seorang anak tidak dipisahkan dengan susana keluarga, ia hanya ditransplatasikan dari keluarga kecil yakni orang tua ke keluarga besar, yakni keluarga Guru.

Seorang anak juga harus mengerti bagaimana dan apa yang dilakukan oleh orang tua kepada anaknya hanya semata-mata agar anaknya lebih baik, berguna bagi keluarga dan masyarakat serta bekal anak di masa depannya untuk menempu hidup yang setiap hari akan lebih keras. Jadi seorang anak harus berbakti kepada orang tua, dimanpun dan kapanpun dia berada harus bertidak hati-hati dan dipikirkan terlebih dahulu baik dan buruknya jika akan melakukan sesuatu karena anak menentukan citra keluarganya.

Berdasarkan penjelasan diatas, hal utama yang harus diajarkan atau ditanamkan kepada anak sejak dini adalah moral dan budi pekerti. Budi pekerti dalam sansekerta terdiri dari “Budhi” dan “Pekerti” , Budhi yang berarti pengetahuan, sedangkan pekerti atau pravriti yang berarti perilaku. Dalam bahasa Indonesia kata budhi dan pekerti disatukan dan memiliki satu pengertian yang tidak terpisahkan, yaitu sebagai perilaku yang baik.

Bagi umat Hindu, hidup adalah sebuah perjalanan yang melewati 16 kejadian penting (tonggak sejarah) yang dapat diidentifikasikan atau siasumsikan sebagai tangga menuju tahapan perkembangan jasmani dan emosional. Setiap tahapan yang dilalui dilaksanakan upacara suci, ritual yang disebut “samskara”. Kata “samskara” berarti membersihkan, menyucikan sesuatu objek, menjernihkannya untuk menuju tahapan yang lebih tinggi. 16 macam upacara Samskàra itu, yang terdiri dari:
  1. Garbhadhana (konsepsi)
  2. Pumsavana (kehamilan berumur 3 bulan)
  3. Simantonnayana (memberikan perlindungan ketika bayi berumur 4-6 bulan dalam kandungan
  4. Jàtakarma (upacara saat kelahiran bayi)
  5. Nàmakarana (upacara pemberian nama saat bayi berumur 11 hari atau pada hari yang baik setelah hari kelahiran)
  6. Niskramana (membawa bayi ke luar rumah setelah berumur 4 bulan)
  7. Annaprasana (upacara memberi makanan pada usia 6-7 bulan)
  8. Chudakarma (upacara pemotongan rambut pertama setelah bayi berumur 1-3 tahun)
  9. Karnavedha (upacara tindik daun telinga setelah bayi berumur 3 tahun)
  10. Upanayana (upacara saat memasuki sekolah, umur 6-8 tahun).
  11. Vedàrambha (upacara mulai belajar kitab suci Veda)
  12. Samavartana (upacara menyelesaikan pendidikan, usia sekitar 24 tahun)
  13. Vivàha (upacara perkawinan, sudah melepaskan diri sebagai Brahmacàri, kini memasuki masa Gåhastha)
  14. Vanaprastha (upacara memasuki usia pensiun dan memandang dunia sebagai keluarga sendiri)
  15. Sannyàsa (upacara penyucian diri untuk melepaskan diri dari ikatan duniawi)
  16. Antyesti (upacara kematian/Bhupendra, 2001: 3, Rajbali, 1991: 23).
Pendidikan budhi pekerti bagi anak-anak dalam keluarga kiranya dapat menjadikan ajaran moral, dalam Kitab Bhagavad sebagai pedoman. Adapun sifat-sifat yang harus ditanamkan dan cara penanamannya adalah sebagai berikut:
  1. Abhyasa, yang mengandung arti melatih diri, membiasakan diri terhadap hal-hal yang baik (Bhagavad Gītā VI-35; VIII-8; XII.9-10). Anak harus sejak dini diajarkan melatih, membiasakan diri terhadap hal-hal yang baik dengan cara orang tua mampu menjadi tauladan yang baik bagi anak-anaknya dengan mempraktekkan perilaku yang baik dalam kehidupan sehari-hari. Anak sejak dini sudah diajarkan untuk melakukan sembahyang dan mengucapkan nama suci Hyang Widi secara teratur, Misalnya anak harus dibiasakan mengucapkan Mantram atau doa sehari-hari.
  2. Tyaga, mengandung arti tulus ikhlas (Bhagavad Gītā XVIII.3-4, 10) yakni ikhlas tanpa beban ketika menghadapi sesuatu. Sikap abhyasa dan sikap tyaga keduanya dapat dibandingkan seperti “maarkata nyaya” yaitu sikap anak kera, dan dengan ”marjara nyaya”, sikap anak kucing. Yang pertama berpegang erat-erat (seperti anak kera memegang erat-erat induknya saat ia dibawa kemana saja) dan melaksanakan ajaran agama sebaik-baiknya (bhakti), sedangkan yang kedua adalah seperti kepasrahan seekor anak kucing yang dicengkeram oleh mulut induknya saat berpindah-pindah. Seperti itu pulalah hendaknya kita pasrah dan menyerahkan diri kepada Tuhan.
  3. Santosa, yang artinya puas menerima keadaan (santhusta), yakni dapat mensyukuri karunia-Nya. Seseorang tidak perlu terlalu menyesali diri, tetapi harus tetap optimis dalam menjalankan tugas kewajibannya. Kitab Weda menyatakan, tidak ada kegagalan bagi orang yang tekun berusaha.
  4. Sthitaprajnya, yakni teguh dalam menghadapi tantangan, gelombang suka dan duka (Bhagavad Gītā II-54) Dalam menghadapi berbagai cobaan, hendaknya orang tetap berpegang teguh pada dharma.
Demikianlah pendidikan anak menurut ajaran agama hindu, dimana anak merupakan jembatan bagi orang tua untuk menuju sorga, anak juga menentukan citra dari sebuah keluarga, sehingga kewajiban bagi orang tua untuk menanamkan pendidikan budi pekerti dan agama kepada anak sejak dini untuk membentuk karakter anak.
Read More......

Arti Kehidupan

Setiap hari dan setiap saat kita menjalani kehidupan dengan apa adanya dan bahkan banyak yang mengeluh dengan keadaanya, namun kita tidak mengerti arti sebuah kehidupan. Hidup adalah sesuatu yang pasti yang tak dapat bisa kita sangkal lagi. Kehidupan datang tanpa ada yang dapat menyangkalnya. Diinginkan atau tidak Dia akan datang tanpa permisi terlebih dahulu, itulah kehidupan. Kehidupan ada di luar batas pemahaman kita sebagai manusia dan yang hanya tahu adala Hyang Widi Wasa serta segala bentuk ekspresi kehidupan juga tidak bisa diketahui. Kita sebagai manusia hanya tahu dan menganalisisnya pada akibatnya saja. Segala bentuk nilai, filsafat, dan kegiatan manusia hanya ada dalam akibat eksistensinya selalu berada dalam misteri.

Upaya dalam menyingkap sebuah misteri kehidupan, diperlukan berbagai metode dan cara untuk mengetahuinya. Banyak metode dan cara yang dilakukan untuk mengetahuinya, namun yang terpenting adalah agama, pengetahuan, spiritualitas, dan metode lainnya. Meskipun demikian, kehidupan tetaplah sebagai sebuah misteri. Mungkin dengan memperdalam agama, pengetahuan dan pengalaman yang diperole dari kehidupan yang mampu merainya tetapi, tetap saja dengan kebenaran yang telah ditemukan tidak dapat diajarkan dan tak pernah terungkap dengan kata-kata. Kitap suci (weda) yang dituliskan oleh para Resi yang memperoleh wahyu dari Hyang Widi Wase kemudian menjelaskan kebenaran itu. Sehingga kita harus mempelajari agama dengan memperdalam dan membaca Kita Suci yang didukung dengan ilmu pengetahuan dan pengalaman yang kita peroleh dari keidupan sehari-hari.

Dalam dunia ini segala sesuatau yang ada akan selalu mengalami perubahan atau evolusi. Perubahan sudah menyentuh orientasi atau fokus dari manusia, termasuk orientasi manusia yang cenderung kepada materi semata dan mengenyampingkan dharma.

Karmany evadhikāras te
Mā phalesu kadācana
Mā karma-phala-hetur bhūr
Mā te sango’stv akarmani
“Berbuatlah hanya dengan kawajibanmu, bukan hasil perbuatan itu (yang kau pikirkan), jangan sekali-kali pahala menjadi motifmu dalam bekerja, jangan pula hanya berdiam diri tanpa kerja”
(Bhagawad Gītā, II-47)

Yoga-sthah kuru karmāni
Sangam tyaktvā dhanañjaya
Sidhhy-asiddhyoh samo bhūtvā
Samatvam yoga ucyate
”Pusatkan pikiranmu pada kerja tanpa menghiraukan hasilnya, wahai Dananjaya (Arjuna), tetaplah teguh baik dalam kerberhasilan maupun kegagalan, sebab keseimbangan jiwa itulah yang disebut yoga”
(Bhagawad Gītā, II-48)

Dalam kutipan sloka diatas dijelaskan bahwa akibat suatu perbuatan telah ada atau Inheren, karena itu janganlah berbuat atau berusaha untuk motif mencari keuntungan dari hasil kerja karena bila didasarkan pada satu motif, akibatnya ada dua yaitu;
1. Kekecewaan atau penderitaan kalau tidak tercapai karena terikat oleh motif itu.
2. Tidak akan berbuat sesuatu karena tidak memberikan keuntungan pribadi.

Manusia yang beroriantasi pada materi bukanlah sesuatu yang salah. Tetapi kalau orientasi manusia terhadap materi itu sudah terlalu besar atau berlebihan, maka akan menjadi sesuatu yang tidak baik. Sebab dalam, ajaran agama Hindu, kita diberikan nasihat mencari artha yang berlandaskan dharma. Jadi tujuan hidup kita atau orientasi kita hidup tidak semata-mata mencari artha atau materi semata, tetapi tetap mengedepankan dharma.

Mungkin banyak faktor yang melatarbelakangi semua hal tersebut sehingga manusia cenderung berorientasi pada materi atau artha, namun secara garis besar dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu faktor Internal dan Eksternal. Faktor Internal adalah faktor yang muncul karena dorongan dari dalam diri individu itu sendiri, seperti nilai-nilai kebenaran yang dipelajari atau didapat yang berasal dari ajaran agama yang ditanamkan atau diperoleh sejak dini. Faktor Eksternal merupaka dorongan dari luar individu itu sendiri, faktor ini yang lebih banyak mempengaruhi perubahan manusia, seperti kebutuhan dan keinginannya akan barang yang tersedia begitu banyak (yang tentunya harus dibeli dengan uang). Perubahan globalisasi dan perkembangan zaman serta teknologi yang menyebabkan manusia hanya berorientasi hanya kepada artha, kurangnya penanaman nilai-nilai moral yang baik atau penanaman budi pekerti di lembaga-lembaga pendidikan dari tikngkat dasar sampai tinggi.

Usaha yang dapat dilakukan untuk menghadapi globalisasi dan perkembangan zaman adalah dengan membentengi diri dengan ajaran agama yang kuat. Penanaman nilai-nilai agama, moral dan budi pekerti dari sejak dini sampai ke pendidikan tinggi harus lebih diintensifkan, dan tentunya diikuti dengan pemberian contoh oleh para guru dan orangtua, serta dilakukan evaluasi sikap siswa dalam kesehariannya dengan memberikan suatu reward and punishment. Kalau nilai-nilai baik itu sudah berhasil kita tanamkan sedari kecil dan mampu melekat dalam jiwanya, tentunya kondisi itu akan terbawa sampai mereka dewasa. Walaupun nantinya ada berbagai perubahan lingkungan yang memiliki dampak negatif, seperti arus globalisasi, beredarnya beragam produk yang menggiurkan, orientasi materi tersebut tetap dilandasi dengan dharma. Jadi apa yang menjadi tujuan hidup masyarakat Bali mencari artha berlandaskan dharma tetap dapat dipertahankan.
Read More......

Belajar Dari Simbol-Simbol Gamelan Bali Untuk Mendapatkan Kebahagiaan Dalam Kehidupan


Śaknotīhavia yah sodhum
Prāk śarīra-vimoksanāt,
Kāma-krodhodbhavam vegam
Saq yuktah sa sukhī narah.
(Bhagawad Gita, V. 23.)

Artinya;
“Dia yang mampu menahan kecenderungan keinginan dan amarah didunia ini, sebelum meninggalkan jasad raganya dia adalah yogi, dia adalah orang yang bahagia.”

Bagi orang yang mampu mengendalikan atau menahan segala gejolak emosi dan keinginan di dunia ini, dia telah mampu mewujudkan kedamaian dan kebahagiaan dalam kehidupan di dunia.

Di tengah perkembangan zaman yang sangat pesat, begitu banyak permasalah yang timbul di dunia ini. Manusia berbondong-bondong mencari jalan atau cara untuk mendapatkan kebahagian baik melalui jalan dharma maupun adharma, namun kebanyakan manusia tersesat dengan menggunakan cara atau jalan adharma karena tidak dapat mengendalikan keinginan untuk mendapatkan kebahagian di dunia yang sesaat. Begitu banyak cara atau jalan yang dapat kita gunakan di dunia ini untuk mendapat kebahagiaan.
Terlepas dari semua itu, kita sebagai umat hindu harus dapat memilih dan memilah mana yang merupakan cara atau jalan dharma maupun adharma untuk mencapai kebahagia. Dalam kitab suci agama hindu begitu banyak cara dan jalan dharma yang diajarkan pada kita, namun semua itu tergantung dari keyakinan dan kemampuan kita untuk mempelajari dan menjalankannya di dunia ini. Agama hindu merupakan agama yang tertua atau pertama kalinya dikenal oleh umat manusia khususnya di indonesia, walaupun demikian agama hindu merupakan agama yang fleksibel dan mampu mengikuti perkembangan zaman.
Sebelum kita terlena akan perkembangan zaman yang semakin berkembang pesat dan memanjakan kita dengan teknologi yang canggih, marilah kita melihat dan belajar dari alam dan simbol-simbol yang ada disekitar kita seperti salah satu dari sekian banyak simbol-simbol yang ada. Dari tulisan ini saya terinspirasi dari pewayangan yang judulnya Gatotkaca Menggugat.
Kita sebagai umat hindu tidak asing lagi dengan gamelan atau musik bali. Kita bahkan setiap hari raya atau odalan, hari-hari tertentu atau bahkan setiap hari kita mendengarkan gamelan. Bagi generasi muda umat hindu sekarang sejak kecil sudah dikenalkan bahkan memaikan alat musik gamelan sejak kecil, namun apakah mereka mengerti makna atau petuah dari bunyi gamelan itu? banyak generasi muda sekarang yang tidak mengerti dan memahami petuahnya atau bahkan orang tua juga ada yang tidak mengetahui makna atau petuah dari bunyi gamelan bali.
Disini kita akan membahas makna dan petuah dari bunyi gamelan bali. Bunyi pada gamelan bali mungkin banyak yang sudah mengetahui yaitu Ning, Nang, Nung, Neng, dan Nong. Mari kita bahas satu persatu dari bunyi gamelan tersebut.
1. Ning
Dalam kehidupan kita mencari kebahagian itu harus berdasarkan “Ning” yang berarti bersih atau jernih. Di dalam menjalankan kehidupan sehari-hari pikiran kita harus bersih atau jernih untuk menghadapi cobaan atau masalah yang kita hadapi dalam kehidupan ini. Karena dengan pikiran yang bersih dan jernihlah kita dapat mengatasi dan mencari jalan untuk memecahkan masalah atau mencari solusi yang baik serta selalu dalam jalan dharma. Banyak orang sekarang ini memecahkan masalah dengan cara kekeras dan pikiran yang kotor atau kalut, sehingga masalah yang kecil bisa menjadi besar bahkan banyak melibatkan orang didalamnya dan menyakiti orang lain, misalnya dalam rumah tangga, persahabatan, percintaan seperti anak-anak muda zaman sekarang ini dan lain sebagainya. Jika kita dalam masalah cobalah untuk berfikir jernih dalam mengatasinya, astumkara masalah tersebut dapat kita selesaikan dengan baik dan tidak menyakiti orang lain.
2. Nang
Nang artinya ketenangan, untuk mencapai “Ning” (pikiran yang jernih) berdasarkan “Nang” atau ketenangan. Jika pikiran kita jernih dan tenang semua masalah dalam kehidupan dapat kita selesaikan atau pecahkan, jadi jika kita dalam menghadapi masalah atau sedang mendapatkan masalah sebisa mungkin kita harus berfikir jernih dan tenang.
Nāsti buddhir ayuktasya
Na cāyuktasya bhāvanā
Na cābhāvayatah śāntir
Aśāntasya kutah sukham
(Bhagawan Gita II. 66)

Artinya;
Tak ada kebijaksanaan pada pikiran yang tak terkendalikan dan juga tak ada kosentrasi yang dapat dilakukan dan juga tak ada kedamaian pada pikiran yang tak terpusatkan, sehingga bagaimana mungkin yang tanpa ketenangan dapat menikmati kebahagiaan, bukan?
Dalam sloka Bhagawan Gita diatas kita dapat menarik kesimpulan bahwa untuk mendapatkan kebahagian dan ketenangan kita harus dapat mengendalikan pikiran kita sendiri, karena dengan pikiran yang dapat dikendalikan kita dapat menyelesaikan masalah dalam kehidupan kita.
Kita sebagai umat hindu diajarkan dan sudah mengenal dengan adanya Tri Guna yang merupakan tiga sifat alami manusia yaitu tatwam, rajas, dan tamas. Pada Bhagawan Gita XIV dijelaskan mengenai tri guna yang lahir dari Prakriti dan merupakan sifat yang dominan dari sang Prakriti itu sendiri.
3. Nung
“Nung” diartikan “Keseimbangan”, kita harus menjaga keseimbangan atau keharmonisan dalam kehidupan ini baik itu dengan Sang Hyang Widi Wasa, alam semesta dan dengan sesama manusia, karena alam semesta dan manusia adalah ciptaan Hyang Widi Wasa.
Saha-yajnāh prajāh srstvā
Purovāca prajāpatih,
Anena prasavisyadhvam
Esa vo ‘stv ista-kāma-dhuk.
(Bhagawan Gita III. 10)
Artinya;
Sesungguhnya sejak dahulu dikatakan, Hyang Widi Wasa menciptakan manusia melalui yajnā, berkata: dengan (cara) ini engkau akan berkembang, sebagaimana sapi perah yang memenuhi keinginanmu (sendiri).

Sloka dalam Bhagawan Gita tersebut di atas Nampak ada tiga unsur yang saling beryadnya atau berhubungan untuk mendapatkanya yaitu terdiri dari: prajapatih (Hyang Widi Wase), prajah (rakyat atau manusia). Dalam hal ini di ibaratkan manusia itu sendiri tidak ubahnya seperti seekor lembu perahan yang akan dipera terus menerus untuk memenuhi keinginannya sendiri.
Menurut ajaran agama hindu menjalin hubungan yang harmonis ini dikenal dengan Tri Hita Karana yang dibagi menjadi tiga yaitu yang pertama Parayangan menjalin kerhamonisan dengan Hyang Widi Wase, karena kita merupakan ciptaan Hyang Widi Wase makanya wajib kita bersyukur kepada-Nya dengan melakukan yadnya dan perbuatan dharma, sehingga apa bila terwujudnya hubungan yang harmonis antara manusia dan Hyang Widi Wase maka manusia tersebut merupakan manusia yang kuat dan tahan terhadap tantangan atau masalah, selain karena kebaktianya atau kebijakannya juga karena pertoongan dari Hyang Widi Wasa.
Kedua Palemahan yaitu menjalin kerhamonisan dengan alam semesta atau bumi atau ibu pertiwi yang memangku kita selalu, demikian banyak bencana yang melanda bumi kita akhir-akhir seperti banjir, tanah longsor, global warming dan lainnya, ini merupakan salah satu bukti bahwa belum terwujudnya hubungan yang harmonis antara kita dengan lingkungan kita. Dengan apa yang telah terjadi di bumi ini marilah kita menjalin hubungan yang harmonis dengan menjaga dan merawat bumi kita ini, mungkin apabila kita menanam pepohonan bukan kita yang menikmati hasilnya namun anak-anak kita kelak yang akan menikmati hasilnya dan mari mulai sejak dini anak-anak kita ajarkan untuk menjaga dan merawat lingkungan ini sehingga terjalin hubungan yang harmonis.
Dan Tri Hita Karana yang terakhir atau yang ketiga adalah Pawongan yaitu menjalin hubungan yang harmonis dengan sesama. Sebagai umat hindu kita telah mengenal atau diajarkan Tat Tvam Asi yang artinya aku adalah engkau.
Kita sebagai manusia merupakan mahluk sosial, kita tidak dapat hidup sendiri tetapi saling menbutuhkan maka dari itu menjalin hubungan yang harmonis dengan sesama merupakan kebutuhan hidup kita yang paling mendasar.
4. Neng
Bagi anak-anak sekolah mungkin tidak asing lagi dengan kata Neng karena setiap masuk, istirahat dan pulang sekolah mereka selalu mendengan bunyil bel atau Neng. Neng disini diartikan sebagai “waktu” atau “kesabaran”.
5. Nong
Nong yaitu berarti “kematian”, dalam kehidupan ini kita harus belajar atau mempersiapkan diri untuk kematian karena semua orang didunia ini akan mati dan kita tidak tahu kapan kita akan dipanggil oleh Sang Hyang Widi Wasa, maka untuk itu kita harus memper siapkan diri jika suatu saat kita akan dipanggil oleh-Nya.
Read More......

Senin, 26 September 2011

Pengaruh Lingkungan Pada Evolusi Manusia

Minggu, 25 September 2011 - Telah lama diketahui dari catatan fosil kalau bencana seluas dunia pasti terjadi sekitar 65 juta tahun lalu, menyebabkan kepunahan dinosaurus dan banyak spesies hidup lainnya. Tahun 1978, dua fisikawan Amerika, Luis Alvarez dan anaknya Walter, menemukan bukti yang membawa mereka mengatakan kalau jatuhnya sebuah asteroid besar adalah fenomena yang bertanggung jawab atas bencana tersebut. Hipotesis ini telah lama dikonfirmasi, dan lokasi tumbukan asteroid tersebut telah ditemukan yaitu Chicxulub di Semenanjung Yucatan, di Meksiko.
Peristiwa ini sering disebut sebagai bukti pengaruh jangka panjang peristiwa kebetulan yang dapat mempengaruhi evolusi biologis. Tanpa sebuah pukulan dari luar angkasa, dinosaurus mungkin masih akan memenuhi Bumi ini, mamalia masih akan berupa mahluk kecil yang tak diperhitungkan keberadaannya dalam bayangan para reptil raksasa, dan kita tidak akan ada disini untuk mengetahui fakta ini.
Contoh lain yang sering dikutip adalah pembentukan Lembah Retakan Besar, sekitar enam hingga tujuh juta tahun lalu, yang membelah sebagian Afrika Timur. Menurut teori yang diajukan paleoantropologis Perancis, Yves Coppens, yang menemukannya bersama ilmuan Amerika Donald Johanson, yang menemukan kerangka terkenal Lucy, peristiwa ini membawa pada peran besar kemunculan spesies manusia, dengan memotong kera besar dari hutan dan memaksa mereka beradaptasi dengan sabana, dimana bipedalisme menjadi syarat bertahan hidup dan tangan bebas untuk mengembangkan keahlian baru. Bila kerak Bumi saat itu tidak retak, leluhur kita mungkin masih hidup di pepohonan.
Itu hanya dua dari peristiwa paling terkenal yang tidak diragukan lagi mempengaruhi beberapa langkah sejarah evolusi kita lewat kondisi-kondisi lingkungan yang kebetulan, memberikan bukti nyata, di antara banyak para evolusionis terdepan, mengenai ketidakpastian evolusi, secara umum, dan kepastian evolusi manusia di masa depan. Evolusi berjalan pada dua arah, dan arah ini dipengaruhi oleh lingkungan yang tak teramalkan.
Sumber
De Duve, C. 2002. Life evolving: Molecules, Mind, and Meaning. Oxford University Press.
Read More......

Stimulasi Listrik pada Otak Melahirkan Sel-sel Baru dan Meningkatkan Memori

Senin, 26 September 2011 - "Temuan baru ini memiliki implikasi klinis yang penting karena menginformasikan perawatan potensial bagi manusia yang mengalami gangguan memori."
Menstimulasi area otak tertentu bisa menyebabkan produksi sel-sel otak baru yang meningkatkan memori, demikian menurut sebuah studi hewan dalam Journal of Neuroscience edisi 21 September. Temuan ini menunjukkan bagaimana stimulasi otak bagian dalam (DBS – deep brain stimulation) – sebuah intervensi klinis yang menghantarkan pulsa listrik yang ditargetkan pada beberapa area otak – bisa berhasil meningkatkan kognisi.
“DBS telah cukup efektif untuk pengobatan gangguan gerak, seperti penyakit Parkinson, dan baru-baru ini dieksplorasi untuk pengobatan berbagai kondisi neurologis dan kejiwaan,” kata Paul Frankland, PhD, dari The Hospital for Sick Children (SickKids) , penulis senior studi tersebut. “Temuan baru ini memiliki implikasi klinis yang penting karena menginformasikan perawatan potensial bagi manusia yang mengalami gangguan memori.”
Sepanjang hidup, sel-sel baru lahir di beberapa bagian hippocampus, pusat pembelajaran dan memori di otak. Dalam studi terbaru, Frankland bersama para koleganya menemukan bahwa stimulasi listrik selama satu jam ke korteks entorhinal – sebuah wilayah yang secara langsung berkomunikasi dengan hippocampus – pada tikus dewasa menyebabkan peningkatan sel-sel baru dalam hippocampus sebanyak dua kali lipat. Meskipun ledakan sel-sel baru ini hanya berlangsung sekitar satu minggu, sel-sel yang dihasilkan tersebut berkembang secara normal dan membuat koneksi dengan sel-sel otak lain di dekatnya.
Tikus yang menerima DBS di wilayah otak yang disebut korteks entorhinal menunjukkan peningkatan kemampuan untuk belajar bagaimana menavigasi ke target yang ditunjuk. Gambar ini menunjukkan tikus DBS (S) yang menghabiskan sejumlah besar waktu (ditunjukkan dengan warna merah) berenang di dekat pendaratan terendam (lingkaran titik-titik) dibandingkan dengan tikus tidak distimulasi (NS). (Kredit: Journal of Neuroscience 2011)
Enam minggu kemudian, para peneliti mengevaluasi apakah sel-sel baru ini menghasilkan perubahan dalam memori. Para penulis menguji seberapa baik hewan belajar menavigasi ke daratan yang terendam dalam sebuah kolam kecil. Dibandingkan dengan tikus yang tidak menerima terapi, tikus DBS menghabiskan lebih banyak waktu berenang di dekat pendaratan, menunjukkan bahwa stimulasi korteks entorhinal meningkatkan pembelajaran spasial.
“Untuk saat ini, dasar neurobiologis bagi efek klinis dari DBS belum dipahami dengan baik,” kata Daniel A. Peterson, PhD, dari Kedokteran dan Sains Universitas Rosalind Franklin, seorang ahli dalam sel induk dan perbaikan otak yang tidak terafiliasi dengan penelitian. “Studi ini menunjukkan bahwa stimulasi sirkuit otak tertentu dapat menghasilkan pengembangan sel baru otak fungsional di beberapa area otak tertentu.”
Dalam sebuah studi terkait sebelumnya, para peneliti yang dipimpin Andres Lozano, MD, PhD, dari Toronto Western Hospital, baru-baru ini mempublikasikan Tahap I uji klinis yang menunjukkan bahwa DBS pada forniks, suatu wilayah otak yang juga berkomunikasi langsung dengan hippocampus, memperlambat penurunan kognitif pada beberapa orang penderita demensia dan gangguan kognitif lainnya. “Efek pro-kognitif stimulasi otak bagian dalam pada pasien manusia bisa mengakibatkan produksi neuron baru,” kata Frankland.
Penelitian ini didukung oleh Institut Penelitian Kesehatan Kanada.
Kredit: Society for Neuroscience
Jurnal: S. S. D. Stone, C. M. Teixeira, L. M. DeVito, K. Zaslavsky, S. A. Josselyn, A. M.
Lozano, P. W. Frankland. Stimulation of Entorhinal Cortex Promotes Adult Neurogenesis
and Facilitates Spatial Memory. Journal of Neuroscience, 2011; 31 (38): 13469 DOI:
10.1523/JNEUROSCI.3100-11.2011
Read More......