.

Selamat Datang di Blog Education_Life jangan lupa berikan comment dan komentar anda.
Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan

Jumat, 14 Oktober 2011

Kulkul Sebagai Simbol Budaya Masyarakat Bali

Oleh: I Gde Made Indra Sadguna

Pendahuluan

Kulkul atau kentongan (Jawa) merupakan instrumen musik yang bisa dibuat dari kayu ataupun bambu. Secara spesifik, kayu yang dapat dipergunakan sebagai bahan kulkul adalah: kayu ketewel (nangka), kayu teges (jati), kayu camplung, dan kayu intaran gading (batang pohon pandan yang sudah tua). Untuk mendapatkan kulkul yang baik, maka dipilihlah kayu atau bahan yang baik pula, karena dengan bahan yang baik dapat memberikan kualitas suara yang baik pula. Kayu terbaik untuk dipergunakan sebagai bahan kulkul adalah kayu nangka (artocarpus heterophyllus). Hal ini disebabkan karena serat kayu nangka lebih padat dibandingkan dengan kayu yang lainnya, sehingga dapat menghasilkan suara yang lebih padat dan bagus.

Kulkul berbentuk bulat memanjang, di mana pada bagian tengah tubuhnya terdapat rongga suara yang berfungsi sebagai resonator. Alat musik ini dikelompokkan ke dalam golongan idiophone sebab sumber suaranya berasal dari getaran tubuhnya sendiri. Ukuranya bervariatif, ada yang panjangnya hanya ½ meter dengan lebar lingkaran 10 cm, tapi ada juga yang lebih dari 1 meter dengan lebar lingkaran 100 cm. Biasanya kulkul yang berukuran besar ditempatkan (digantung) di pos-pos siskamling, banjar-banjar atau pura-pura.

Sesungguhnya budaya kentongan terdapat di seluruh daerah di Nusantara sebagai sarana komunikasi. Sebut saja di Pulau Jawa misalnya, instrumen kentongan biasa difungsikan untuk sarana siskamling atau dijadikan sarana membangunkan orang puasa ketika bulan Ramadhan. Namun hal ini kiranya tidak terjadi di Bali. Keberadaan kulkul di Pulau Dewata secara umum diposisikan sesuai kegunaannya di dalam kehidupan masyarakat.

Lalu pertanyaannya, berapakah jenis kulkul yang terdapat di Bali? Mengapa keberadaan instrumen kulkul begitu berpengaruh terhadap kehidupan masyarakat Bali ? Apakah karena faktor sejarah, politik, sosial, agama atau faktor lain, sehingga kalau di daerah lain kulkul dipandang sebagai alat musik biasa, tapi di Bali kulkul sangat bermakna? Penjelasan mengenai permasalahan tersebut akan dibahas penulis sebagai berikut.

Kulkul Sakral

Di Bali terdapat tiga jenis kulkul. Pertama, ada kulkul sakral yang keberadaannya selalu ditempatkan di pura-pura dan disakralkan oleh masyarakat. Sebagai instrumen perkusi, keberadaan kulkul sakral tersebut tidak bisa dilepaskan dari odalan, karena selalu difungsikan sebagai sarana upacara. Dalam tata upacara di Bali disebutkan bahwa yang harus ada dalam suatu odalan adalah Panca Gita. Panca berarti lima sedangkan gita berarti suara atau nyanyian. Pembagian Panca Gita tersebut adalah suara kulkul, suara genta dari orang suci atau pendeta, suara kidung atau nyanyian berisi pujian kepada Tuhan, suara sunari dan suara gamelan. Jadi berdasarkan uraian tersebut, kehadiran kulkul sifatnya wajib dan harus ada pada saat upacara berlangsung.

Dalam suatu pura yang sifatnya milik masyarakat umum bukan individual, kulkul akan ditempatkan pada suatu bangunan tertentu yang dinamakan bale kulkul. Bangunan ini biasanya akan berdiri pada salah satu sudut dari pura tersebut. Bale ini akan dibuat dengan tinggi sekitar 5 meter di mana kulkul akan digantung pada tempat yang paling atas. Fungsinya ditempatkan di atas adalah jika pada suatu odalan berlangsung, seluruh warga masyarakat baik yang dekat maupun jauh bisa mengetahui bahwa upacara sedang berlangsung. Pada bale kulkul di pura, biasanya akan digantungkan dua atau beberapa buah kulkul yang berukuran besar. Ketika upacara berlangsung, kulkul tersebut akan ditabuh secara bergiliran dengan tempo yang pelan. Suara kulkul yang pelan itu juga membangkitkan suasana yang lebih sakral dan khusyuk dalam melaksanakan persembahyangan.

Kulkul Kubu

Selain kulkul sakral, di Bali juga dikenal instrumen musik yang disebut dengan kulkul kubu. Yaitu, alat musik perkusi yang biasa dibunyikan di area persawahan untuk mengusir hama atau burung-burung yang acap kali menggangu para petani. Biasanya terbuat dari bambu dan berbentuk kecil agar bisa dengan mudah dibawa oleh petani ke mana-mana.

Kulkul kubu ini juga memiliki makna simbolik karena sering diidentikkan dengan orang yang banyak omong tetapi tidak memiliki kemampuan apa-apa. Di Bali ada sebuah analogi yang kira-kira berbunyi sebagai berikut “yen memunyi de ngawag-ngawag, pang sing cara munyin kulkul kubu”. Jika diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia, berarti: “berhati-hatilah kalau berbicara, jangan sembarangan biar tidak seperti kulkul kubu”. Jadi, persis seperti kulkul kubu yang dipasang di area persawahan, bunyinya sangat banyak dan ribut akan tetapi tidak akan pernah dimaknai atau dipedulikan oleh orang lain. Inilah makna dan fungsi kulkul kubu bagi masyarakat Bali.

Kulkul Banjar

Namun demikian, selain kulkul sakral dan kulkul kubu tersebut, yang menarik dicermati adalah fenomena kulkul banjar. Kulkul jenis ini biasanya dipasang (digantung) di bale banjar untuk dijadikan sarana mengumpulkan massa. Kulkul banjar, menurut asumsi penulis adalah kulkul yang memiliki peran dan fungsi signifikan karena secara umum oleh masyarakat Bali dijadikan sarana pemersatu kehidupan. Berkat peran kulkul banjar inilah, masyarakat Bali memiliki spirit kebersamaan yang tinggi, karena setiap mendengar bunyi kulkul ditabuh, warga akan berbondong-bondong datang ke banjar untuk melakukan aktivitas gotong-royong. Dengan kekuatan bunyinya inilah, kulkul banjar mampu menciptakan aturan tak tertulis yang wajib dipatuhi oleh seluruh masyarakat. Tak terkecuali masyarakat yang memiliki kasta tinggi, seperti Brahmana atau Kesatria. Semuanya dipastikan akan patuh setiap kali mendengar kulkul banjar ditabuh, karena bunyi yang terdapat pada alat musik tersebut adalah mengandung makna “perintah”.

Kenyataan ini tentunya tidak lepas dari suara kulkul banjar yang bunyinya sangat spesifik dengan tabuhan yang khas pula. Misalnya, pola suara untuk menandakan adanya warga yang punya hajat adalah disimbolkan dengan pola pukulan dari yang dimulai dengan tempo lambat dan kemudian secara perlahan dipercepat tapi hanya pada tempo medium, tidak sampai tempo kencang. Ketika mendengar tabuhan kulkul seperti ini maka setiap masyarakat pasti segera bergegas kumpul di banjar untuk kemudian melakukan gotong-royong di rumah warga yang punya hajatan. Biasanya warga -laki-laki khususnya- akan membawa sebuah pisau agak besar yang dinamakan blakas untuk proses ngelawar.

Pola suara untuk menandakan adanya warga yang meninggal dunia (kematian) adalah disimbolkan dengan pola pukulan yang pelan dan biasanya mempunyai hitungan tertentu, misal dipukul sebanyak sembilan atau tujuh kali secara berulang. Demikian juga ketika masyarakat mendengar tabuhan ini, maka warga akan berduyun-duyun datang membantu meringankan beban keluarga yang ditinggalkan. Warga akan membantu untuk membuat sesajen upakara dan bade atau wadah untuk orang yang meninggal.

Kemudian yang tidak kalah menarik, adalah bunyi kulkul yang bermakna bulus atau menandakan adanya marabahaya, misalnya: banjir, kebakaran, pembunuhan, perampokan dan lain-lain. Bunyi kulkul bulus yang disimbolkan dengan pola tabuhan cepat dan kencang ini, selain mencitrakan daya gotong royong masyarakat Bali secara umum, ternyata juga menggambarkan spirit primordialisme lokal, yang lebih membela kepentingan kelompok atau golongan. Adapun fenomena yang terjadi di Bali bahwa keberadaan kulkul bulus selain untuk menandai adanya marabahaya: banjir, kebakaran, perampokan, pembunuhan dan lain-lain demi kepentingan orang banyak, pada sisi lain juga dimanfaatkan untuk mengumpulkan masyarakat banjar guna melakukan keributan masal dengan masyarakat banjar yang lain.

Hal tersebut kerap terjadi, di mana antara satu banjar dengan banjar lain terlibat perkelahian masif, lantaran rasa solidaritas kolektif masyarakat Bali yang tinggi. Oleh karena itu, ketika kulkul bulus dibunyikan, maka segera masyarakat akan berkumpul dengan membawa senjata seperti pedang, keris, maupun pisau. Tetapi tidak untuk bergotong royong, melainkan untuk berperang dengan banjar yang lain. Di Bali situasi yang demikian kerap terjadi, karena setiap masyarakat yang hidup dalam satu banjar selalu tergerak ikut membela kepentingan banjarnya akibat bunyi kulkul bulus. Bahwa oleh sebagian masyarakat tidak sekedar dimaknai sebagai “perintah” bergotong royong, tetapi juga “perintah” untuk berperang melawan banjar yang lain. Sekalipun hal ini banyak yang menyayangkan, namun pada kenyataannya inilah fenomena instrumen kulkul di Bali yang memiliki banyak fungsi.

Penutup

Seluruh fenomena sosial budaya di atas tersebut sesungguhnya tidak lepas dari karakter masyarakat Bali yang memang dikenal patuh terhadap aturan tradisinya. Sehingga, selain memiliki kekayaan seni budaya yang eksotik, original, Bali secara umum memiliki tradisi sosial yang sangat kuat yakni budaya gotong royong.

Budaya gotong-royong bagi masyarakat Bali, tidak hanya dimaknai sekedar kegiatan saling bantu-membantu antar-sesama, lebih dari itu juga dimaknai sebagai kegiatan yang sangat sakral. Karena keberadaan gotong-royong bagi masyarakat Bali adalah terkait dengan ajaran keyakinan (agama) Hindu. Oleh karena itu, tidak heran bila dalam membangun hubungan sosial, masyarakat Bali selalu mendahulukan kepentingan orang banyak daripada kepentingan pribadi. Barangkali, hal inilah yang melatarbelakangi mengapa masyarakat Bali selalu patuh terhadap simbol-simbol budayanya – seperti halnya instrumen musik kulkul – karena semua adalah bagian dari ajaran Tri Hita Karana. Yaitu, suatu ajaran yang mengharuskan setiap masyarakat Bali selalu menghargai dan menghormati alam, sesama manusia dan Tuhan Yang Maha Esa.

Keberadaan kulkul di Bali telah menjadikannya sebuah budaya dengan makna simbolik tersendiri jika dibandingkan dengan daerah-daerah lain di Nusantara. Meskipun setiap daerah memiliki budaya kulkul atau kentongan dengan fungsi sebagai sarana komunikasi, akan tetapi konteks sosial yang ada pada masyarakat Bali yang membedakannya dengan daerah lain. Walau zaman telah mengalami perkembangan begitu pesat khususnya dalam bidang komunikasi dengan masuknya beragam teknologi baru seperti telepon, telepon sellular, dan layanan pesan singkat, namun keberadaan kulkul di Bali akan tetap eksis dana tidak akan pernah bisa tergantikan. Hal tersebut bisa dilihat di setiap wilayah banjar yang masih memiliki kulkul sebagai sarana upacara dan komunikasi. Fenomena seperti ini terjadi karena masyarakat Bali menganggap bahwa kulkul memiliki makna simbolik tersendiri dalam tatanan kehidupan kemasyarakatan.

Menurut ST. Sunardi, Direktur Pascasarjana Universitas Sanata Darma ini – sebagaimana dipaparkan dalam buku Semiotika Negativa – bahwa segala sesuatu yang mengandung simbol selalu menuntun pada hubungan paradigmatik yang memicu kesadaran orang terhadap apa yang dilihat, didengar dan dirasakan, kemudian dihubungkan dengan tanda-tanda yang tidak kelihatan. Artinya, ketika masyarakat mendengar bunyi kulkul maka dalam imajinasinya akan dihadapkan pada suatu sistem nilai, yakni spirit kebersamaan, persatuan, etnisitas, lokalitas, identitas dan lain-lain.

Apa yang disampaikan ST Sunardi ini pada dasarnya bersesuaian dengan simbol kulkul bagi masyarakat Bali. Kulkul yang sebenarnya hanyalah alat musik, tapi pada satu sisi dipandang sebagai instrumen yang sangat sakral karena keberadaannya ditempatkan sebagai bagian pelengkap sarana upacara. Oleh karena itu, sesuai fungsinya, maka yang bisa membunyikan kulkul sakral di pura-pura hanyalah pendeta atau orang yang diberi kewenangan oleh adat.

Demikian juga dengan kulkul kubu yang diibaratkan orang yang kerjanya hanya berbicara, tetapi tidak ada yang mempedulikan. Adalah suatu representasi dari wujud kulkul kubu yang biasanya berjumlah banyak dan hanya berbunyi kalau ia dipukul (dibunyikan) untuk mengusir burung-burung dan tidak bersifat sakral. Tempatnya pun hanya dipersawahan, notabene merupakan ruang yang mencitrakan tingkat sosial paling bawah. Bila dibandingkan dengan pura dan banjar, sawah secara image adalah mencitrakan tempat yang kotor, becek, lahan para petani mendulang rejeki. Barangkali inilah jawaban mengapa kulkul kubu diidentikan sebagai orang yang banyak omong. Bisa jadi dilandasi bentuk tidak sebagus dan sebesar kulkul yang biasa ditempatkan di pura atau di banjar-banjar.

Hal yang cukup menarik dari aspek semiotika adalah keberadaan kulkul banjar. Bisa jadi keberadaannya yang lebih dekat dengan kehidupan masyarakat, maka kulkul ini memiliki peran cukup signifikan. Secara fungsional kulkul banjar disimbolkan sebagai sarana menciptakan kebersamaan dan persatuan, karena setiap masyarakat akan selalu mematuhi simbol-simbol bunyi yang disuarakan dari kulkul tersebut. Bisa jadi kenyataan ini tidak lepas dari makna bunyi yang terkandung dalam kulkul, secara tidak langsung merupakan perjanjian tidak tertulis antara kulkul dengan masyarakat. Sehingga setiap mendengar suara kulkul banjar ditabuh, maka tanpa dikomando masyarakat sudah mengetahui apa makna bunyi tersebut. Apakah ajakan untuk bergotong royong membantu tetangga yang punya hajat, ataukah ajakan untuk menghadiri upacara kematian maupun ajakan untuk bersama-sama mempertahankan keberadaan banjar dari ancaman musuh, semuanya tidak lepas dari fungsi kulkul yang tidak sekedar alat musik perkusi, melainkan suatu simbol budaya yang telah melembaga dalam kehidupan masyarakat Bali. Pada dasarnya memiliki kepatuhan, serta taat pada aturan tradisinya. Inilah inti dari simbol budaya kulkul di Bali, yang hingga kini masih dipatuhi sebagai sarana simbolik dalam mengatur harmoni kehidupan masyarakat.(indrasadguna)

Daftar Pustaka

Ardika, I Wayan. Dinamika Kebudayaan Bali. Denpasar: PT. Upada Sastra, 1996.
Bing, Agus. “Negarakretagama: Sebuah Festival”. Dalam harian Jawa Pos. 20 Juni 2010.
Cobley, Paul, dan Litza Jansz. Mengenal Semiotika For Beginners. Bandung: Mizan Media Utama, 2002.
Zoest, Aart van. Semiotika: Tentang Tanda, Cara Kerjanya dan Apa yang Kita Lakukan Dengannya. Jakarta: Yayasan Sumber Agung, 2003.
————————–, dan Panuti Sudjiman. Serba-serbi Semiotika. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 1992.

Sumber Internet

http://www.parisada.org/index.php?option=com_content&task=view&id=1609&Itemid=29
http://202.138.226.22/wanus_v2/public/images/peninggalan/artikel/kulkul01.jpg
http://www.google.co.id/imglanding?q=kulkul%20bali&imgurl=http://www.balifotografer.com
Read More......

Rabu, 12 Oktober 2011

Pendidikan Anak Menurut Agama Hindu

Kelahiran anak pada suatu keluarga patut disyukuri karena anak merupakan titipan tuhan yang sangat berharga dan wajib bagi orang tua untuk menjaga serta memberikan pendidikan kepada anak.

Menurut Titib (dalam Suryanto, 2011), dalam bahasa Sanskerta ‘anak’ adalah “putra”. Kata “putra” itu sendiri pada mulanya berarti kecil atau yang disayang, kemudian kata ini dipakai menjelaskan mengapa pentingnya seorang anak yang lahir dalam keluarga:

“Oleh karena seorang anak yang akan menyeberangkan orang tuanya dari neraka yang disebut Put (neraka lantaran tidak memiliki keturunan), oleh karena itu ia disebut Putra”
(Manawadharmashastra IX.138).

Dalam kutipan tersebut kita dapat memahami betapa pentingnya seorang anak atau putra dalam sebuah keluarga terutama bagi orang tuanya, karena anak selain sebagai penerus garis keturunan dan adat-istiadat yang selama ini orang tua jalankan namun anak juga akan menyebrangkan orang tuanya dari neraka yang disebut Put seperti mana dijelaskan di atas.
Ada sebuah kutipan yang sangat berharga dan patut kita pelajari sebagai orang tua serta sebagai seorang anak.

”Seluruh hutan terbakar hangus karena satu pohon kering yang terbakar, begitu pula seorang anak yang kuputra (buruk karakternya), menghancurkan dan memberikan aib bagi seluruh keluarga” (Canakya Nitisastra II.15).

“Seluruh hutan menjadi harum baunya, karena terdapat sebuah pohon yang berbunga indah dan harum semerbak. Demikian pula halnya bila dalam keluarga terdapat putra yang Suputra”
(Canakya Nitisastra II.16).


“Kegelapan malam dibuat terang benderang hanya oleh satu rembulan dan bukan oleh ribuan bintang, demikianlah seorang anak yang Suputra mengangkat martabat orang tua, bukan ratusan anak yang tidak mempunyai sifat-sifat yang baik”.
(Nitisastra IV.6).

Dalam kutipan-kutipan tersebut kita sebagai orang tua diingatkan dan diajarkan betapa pentingnya seorang anak, karena baik buruknya kita dalam mendidik seorang anak akan membentuk karakter anak dalam keluarga dan menentukan citra keluarga dalam masyarakat. Selain anak mendapatkan pendidikan dalam lingkungan sekolah, orang tua juga berperan dalam mendidik dan membentuk karakter anak. Jika anak dalam keuarga di didik dengan kasih sayang dan pendidikan menurut ajaran agama sejak dini swaha anak akan memiliki karakter yang baik dan bila sebaliknya, bila orang tua yang cuek atau tidak memperdulikan atau membiarkan anak berkembang sendiri tanpa ada bimbingan orang tua maka anaknya akan membentuk karakter yang tidak baik, selain sekolah, orang tua, lingkungan pergaulan yang ada diluar rumah juga mempengaruhi perkembangan atau pembentukan karakter seorang anak. Namun sebagai orang tua bukan berarti kita harus mengurung anak hanya dirumah saja dan tidak memberikan kebebasan bagi anak, melaikan memberikan kebebasan namun dalam pantauan atau bimbingan dari orang tua.

Dalam sistem pendidikan Veda, ketika seorang anak kehilangan cinta kasih dari kedua orang tuanya, maka pendidikan di sekolah (dalam pengertian pendidikan Gurukula) menggantikan kasih sayang orang tua tersebut kepadanya. Dalam pendidikan Gurukula ini seorang anak dipisahkan dari keluarga. Kata “Kula” dalam kaitannya dengan Gurukula berimplikasi bahwa seorang anak tidak sepenuhnya dijauhkan dari atmosfir keluarga. Ia kini berubah dari kehidupan dalam keluarga kecil ke dalam keluarga besar. Dalam sistem pendidikan Veda, seorang anak tidak dipisahkan dengan susana keluarga, ia hanya ditransplatasikan dari keluarga kecil yakni orang tua ke keluarga besar, yakni keluarga Guru.

Seorang anak juga harus mengerti bagaimana dan apa yang dilakukan oleh orang tua kepada anaknya hanya semata-mata agar anaknya lebih baik, berguna bagi keluarga dan masyarakat serta bekal anak di masa depannya untuk menempu hidup yang setiap hari akan lebih keras. Jadi seorang anak harus berbakti kepada orang tua, dimanpun dan kapanpun dia berada harus bertidak hati-hati dan dipikirkan terlebih dahulu baik dan buruknya jika akan melakukan sesuatu karena anak menentukan citra keluarganya.

Berdasarkan penjelasan diatas, hal utama yang harus diajarkan atau ditanamkan kepada anak sejak dini adalah moral dan budi pekerti. Budi pekerti dalam sansekerta terdiri dari “Budhi” dan “Pekerti” , Budhi yang berarti pengetahuan, sedangkan pekerti atau pravriti yang berarti perilaku. Dalam bahasa Indonesia kata budhi dan pekerti disatukan dan memiliki satu pengertian yang tidak terpisahkan, yaitu sebagai perilaku yang baik.

Bagi umat Hindu, hidup adalah sebuah perjalanan yang melewati 16 kejadian penting (tonggak sejarah) yang dapat diidentifikasikan atau siasumsikan sebagai tangga menuju tahapan perkembangan jasmani dan emosional. Setiap tahapan yang dilalui dilaksanakan upacara suci, ritual yang disebut “samskara”. Kata “samskara” berarti membersihkan, menyucikan sesuatu objek, menjernihkannya untuk menuju tahapan yang lebih tinggi. 16 macam upacara Samskàra itu, yang terdiri dari:
  1. Garbhadhana (konsepsi)
  2. Pumsavana (kehamilan berumur 3 bulan)
  3. Simantonnayana (memberikan perlindungan ketika bayi berumur 4-6 bulan dalam kandungan
  4. Jàtakarma (upacara saat kelahiran bayi)
  5. Nàmakarana (upacara pemberian nama saat bayi berumur 11 hari atau pada hari yang baik setelah hari kelahiran)
  6. Niskramana (membawa bayi ke luar rumah setelah berumur 4 bulan)
  7. Annaprasana (upacara memberi makanan pada usia 6-7 bulan)
  8. Chudakarma (upacara pemotongan rambut pertama setelah bayi berumur 1-3 tahun)
  9. Karnavedha (upacara tindik daun telinga setelah bayi berumur 3 tahun)
  10. Upanayana (upacara saat memasuki sekolah, umur 6-8 tahun).
  11. Vedàrambha (upacara mulai belajar kitab suci Veda)
  12. Samavartana (upacara menyelesaikan pendidikan, usia sekitar 24 tahun)
  13. Vivàha (upacara perkawinan, sudah melepaskan diri sebagai Brahmacàri, kini memasuki masa Gåhastha)
  14. Vanaprastha (upacara memasuki usia pensiun dan memandang dunia sebagai keluarga sendiri)
  15. Sannyàsa (upacara penyucian diri untuk melepaskan diri dari ikatan duniawi)
  16. Antyesti (upacara kematian/Bhupendra, 2001: 3, Rajbali, 1991: 23).
Pendidikan budhi pekerti bagi anak-anak dalam keluarga kiranya dapat menjadikan ajaran moral, dalam Kitab Bhagavad sebagai pedoman. Adapun sifat-sifat yang harus ditanamkan dan cara penanamannya adalah sebagai berikut:
  1. Abhyasa, yang mengandung arti melatih diri, membiasakan diri terhadap hal-hal yang baik (Bhagavad Gītā VI-35; VIII-8; XII.9-10). Anak harus sejak dini diajarkan melatih, membiasakan diri terhadap hal-hal yang baik dengan cara orang tua mampu menjadi tauladan yang baik bagi anak-anaknya dengan mempraktekkan perilaku yang baik dalam kehidupan sehari-hari. Anak sejak dini sudah diajarkan untuk melakukan sembahyang dan mengucapkan nama suci Hyang Widi secara teratur, Misalnya anak harus dibiasakan mengucapkan Mantram atau doa sehari-hari.
  2. Tyaga, mengandung arti tulus ikhlas (Bhagavad Gītā XVIII.3-4, 10) yakni ikhlas tanpa beban ketika menghadapi sesuatu. Sikap abhyasa dan sikap tyaga keduanya dapat dibandingkan seperti “maarkata nyaya” yaitu sikap anak kera, dan dengan ”marjara nyaya”, sikap anak kucing. Yang pertama berpegang erat-erat (seperti anak kera memegang erat-erat induknya saat ia dibawa kemana saja) dan melaksanakan ajaran agama sebaik-baiknya (bhakti), sedangkan yang kedua adalah seperti kepasrahan seekor anak kucing yang dicengkeram oleh mulut induknya saat berpindah-pindah. Seperti itu pulalah hendaknya kita pasrah dan menyerahkan diri kepada Tuhan.
  3. Santosa, yang artinya puas menerima keadaan (santhusta), yakni dapat mensyukuri karunia-Nya. Seseorang tidak perlu terlalu menyesali diri, tetapi harus tetap optimis dalam menjalankan tugas kewajibannya. Kitab Weda menyatakan, tidak ada kegagalan bagi orang yang tekun berusaha.
  4. Sthitaprajnya, yakni teguh dalam menghadapi tantangan, gelombang suka dan duka (Bhagavad Gītā II-54) Dalam menghadapi berbagai cobaan, hendaknya orang tetap berpegang teguh pada dharma.
Demikianlah pendidikan anak menurut ajaran agama hindu, dimana anak merupakan jembatan bagi orang tua untuk menuju sorga, anak juga menentukan citra dari sebuah keluarga, sehingga kewajiban bagi orang tua untuk menanamkan pendidikan budi pekerti dan agama kepada anak sejak dini untuk membentuk karakter anak.
Read More......

Arti Kehidupan

Setiap hari dan setiap saat kita menjalani kehidupan dengan apa adanya dan bahkan banyak yang mengeluh dengan keadaanya, namun kita tidak mengerti arti sebuah kehidupan. Hidup adalah sesuatu yang pasti yang tak dapat bisa kita sangkal lagi. Kehidupan datang tanpa ada yang dapat menyangkalnya. Diinginkan atau tidak Dia akan datang tanpa permisi terlebih dahulu, itulah kehidupan. Kehidupan ada di luar batas pemahaman kita sebagai manusia dan yang hanya tahu adala Hyang Widi Wasa serta segala bentuk ekspresi kehidupan juga tidak bisa diketahui. Kita sebagai manusia hanya tahu dan menganalisisnya pada akibatnya saja. Segala bentuk nilai, filsafat, dan kegiatan manusia hanya ada dalam akibat eksistensinya selalu berada dalam misteri.

Upaya dalam menyingkap sebuah misteri kehidupan, diperlukan berbagai metode dan cara untuk mengetahuinya. Banyak metode dan cara yang dilakukan untuk mengetahuinya, namun yang terpenting adalah agama, pengetahuan, spiritualitas, dan metode lainnya. Meskipun demikian, kehidupan tetaplah sebagai sebuah misteri. Mungkin dengan memperdalam agama, pengetahuan dan pengalaman yang diperole dari kehidupan yang mampu merainya tetapi, tetap saja dengan kebenaran yang telah ditemukan tidak dapat diajarkan dan tak pernah terungkap dengan kata-kata. Kitap suci (weda) yang dituliskan oleh para Resi yang memperoleh wahyu dari Hyang Widi Wase kemudian menjelaskan kebenaran itu. Sehingga kita harus mempelajari agama dengan memperdalam dan membaca Kita Suci yang didukung dengan ilmu pengetahuan dan pengalaman yang kita peroleh dari keidupan sehari-hari.

Dalam dunia ini segala sesuatau yang ada akan selalu mengalami perubahan atau evolusi. Perubahan sudah menyentuh orientasi atau fokus dari manusia, termasuk orientasi manusia yang cenderung kepada materi semata dan mengenyampingkan dharma.

Karmany evadhikāras te
Mā phalesu kadācana
Mā karma-phala-hetur bhūr
Mā te sango’stv akarmani
“Berbuatlah hanya dengan kawajibanmu, bukan hasil perbuatan itu (yang kau pikirkan), jangan sekali-kali pahala menjadi motifmu dalam bekerja, jangan pula hanya berdiam diri tanpa kerja”
(Bhagawad Gītā, II-47)

Yoga-sthah kuru karmāni
Sangam tyaktvā dhanañjaya
Sidhhy-asiddhyoh samo bhūtvā
Samatvam yoga ucyate
”Pusatkan pikiranmu pada kerja tanpa menghiraukan hasilnya, wahai Dananjaya (Arjuna), tetaplah teguh baik dalam kerberhasilan maupun kegagalan, sebab keseimbangan jiwa itulah yang disebut yoga”
(Bhagawad Gītā, II-48)

Dalam kutipan sloka diatas dijelaskan bahwa akibat suatu perbuatan telah ada atau Inheren, karena itu janganlah berbuat atau berusaha untuk motif mencari keuntungan dari hasil kerja karena bila didasarkan pada satu motif, akibatnya ada dua yaitu;
1. Kekecewaan atau penderitaan kalau tidak tercapai karena terikat oleh motif itu.
2. Tidak akan berbuat sesuatu karena tidak memberikan keuntungan pribadi.

Manusia yang beroriantasi pada materi bukanlah sesuatu yang salah. Tetapi kalau orientasi manusia terhadap materi itu sudah terlalu besar atau berlebihan, maka akan menjadi sesuatu yang tidak baik. Sebab dalam, ajaran agama Hindu, kita diberikan nasihat mencari artha yang berlandaskan dharma. Jadi tujuan hidup kita atau orientasi kita hidup tidak semata-mata mencari artha atau materi semata, tetapi tetap mengedepankan dharma.

Mungkin banyak faktor yang melatarbelakangi semua hal tersebut sehingga manusia cenderung berorientasi pada materi atau artha, namun secara garis besar dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu faktor Internal dan Eksternal. Faktor Internal adalah faktor yang muncul karena dorongan dari dalam diri individu itu sendiri, seperti nilai-nilai kebenaran yang dipelajari atau didapat yang berasal dari ajaran agama yang ditanamkan atau diperoleh sejak dini. Faktor Eksternal merupaka dorongan dari luar individu itu sendiri, faktor ini yang lebih banyak mempengaruhi perubahan manusia, seperti kebutuhan dan keinginannya akan barang yang tersedia begitu banyak (yang tentunya harus dibeli dengan uang). Perubahan globalisasi dan perkembangan zaman serta teknologi yang menyebabkan manusia hanya berorientasi hanya kepada artha, kurangnya penanaman nilai-nilai moral yang baik atau penanaman budi pekerti di lembaga-lembaga pendidikan dari tikngkat dasar sampai tinggi.

Usaha yang dapat dilakukan untuk menghadapi globalisasi dan perkembangan zaman adalah dengan membentengi diri dengan ajaran agama yang kuat. Penanaman nilai-nilai agama, moral dan budi pekerti dari sejak dini sampai ke pendidikan tinggi harus lebih diintensifkan, dan tentunya diikuti dengan pemberian contoh oleh para guru dan orangtua, serta dilakukan evaluasi sikap siswa dalam kesehariannya dengan memberikan suatu reward and punishment. Kalau nilai-nilai baik itu sudah berhasil kita tanamkan sedari kecil dan mampu melekat dalam jiwanya, tentunya kondisi itu akan terbawa sampai mereka dewasa. Walaupun nantinya ada berbagai perubahan lingkungan yang memiliki dampak negatif, seperti arus globalisasi, beredarnya beragam produk yang menggiurkan, orientasi materi tersebut tetap dilandasi dengan dharma. Jadi apa yang menjadi tujuan hidup masyarakat Bali mencari artha berlandaskan dharma tetap dapat dipertahankan.
Read More......

Belajar Dari Simbol-Simbol Gamelan Bali Untuk Mendapatkan Kebahagiaan Dalam Kehidupan


Śaknotīhavia yah sodhum
Prāk śarīra-vimoksanāt,
Kāma-krodhodbhavam vegam
Saq yuktah sa sukhī narah.
(Bhagawad Gita, V. 23.)

Artinya;
“Dia yang mampu menahan kecenderungan keinginan dan amarah didunia ini, sebelum meninggalkan jasad raganya dia adalah yogi, dia adalah orang yang bahagia.”

Bagi orang yang mampu mengendalikan atau menahan segala gejolak emosi dan keinginan di dunia ini, dia telah mampu mewujudkan kedamaian dan kebahagiaan dalam kehidupan di dunia.

Di tengah perkembangan zaman yang sangat pesat, begitu banyak permasalah yang timbul di dunia ini. Manusia berbondong-bondong mencari jalan atau cara untuk mendapatkan kebahagian baik melalui jalan dharma maupun adharma, namun kebanyakan manusia tersesat dengan menggunakan cara atau jalan adharma karena tidak dapat mengendalikan keinginan untuk mendapatkan kebahagian di dunia yang sesaat. Begitu banyak cara atau jalan yang dapat kita gunakan di dunia ini untuk mendapat kebahagiaan.
Terlepas dari semua itu, kita sebagai umat hindu harus dapat memilih dan memilah mana yang merupakan cara atau jalan dharma maupun adharma untuk mencapai kebahagia. Dalam kitab suci agama hindu begitu banyak cara dan jalan dharma yang diajarkan pada kita, namun semua itu tergantung dari keyakinan dan kemampuan kita untuk mempelajari dan menjalankannya di dunia ini. Agama hindu merupakan agama yang tertua atau pertama kalinya dikenal oleh umat manusia khususnya di indonesia, walaupun demikian agama hindu merupakan agama yang fleksibel dan mampu mengikuti perkembangan zaman.
Sebelum kita terlena akan perkembangan zaman yang semakin berkembang pesat dan memanjakan kita dengan teknologi yang canggih, marilah kita melihat dan belajar dari alam dan simbol-simbol yang ada disekitar kita seperti salah satu dari sekian banyak simbol-simbol yang ada. Dari tulisan ini saya terinspirasi dari pewayangan yang judulnya Gatotkaca Menggugat.
Kita sebagai umat hindu tidak asing lagi dengan gamelan atau musik bali. Kita bahkan setiap hari raya atau odalan, hari-hari tertentu atau bahkan setiap hari kita mendengarkan gamelan. Bagi generasi muda umat hindu sekarang sejak kecil sudah dikenalkan bahkan memaikan alat musik gamelan sejak kecil, namun apakah mereka mengerti makna atau petuah dari bunyi gamelan itu? banyak generasi muda sekarang yang tidak mengerti dan memahami petuahnya atau bahkan orang tua juga ada yang tidak mengetahui makna atau petuah dari bunyi gamelan bali.
Disini kita akan membahas makna dan petuah dari bunyi gamelan bali. Bunyi pada gamelan bali mungkin banyak yang sudah mengetahui yaitu Ning, Nang, Nung, Neng, dan Nong. Mari kita bahas satu persatu dari bunyi gamelan tersebut.
1. Ning
Dalam kehidupan kita mencari kebahagian itu harus berdasarkan “Ning” yang berarti bersih atau jernih. Di dalam menjalankan kehidupan sehari-hari pikiran kita harus bersih atau jernih untuk menghadapi cobaan atau masalah yang kita hadapi dalam kehidupan ini. Karena dengan pikiran yang bersih dan jernihlah kita dapat mengatasi dan mencari jalan untuk memecahkan masalah atau mencari solusi yang baik serta selalu dalam jalan dharma. Banyak orang sekarang ini memecahkan masalah dengan cara kekeras dan pikiran yang kotor atau kalut, sehingga masalah yang kecil bisa menjadi besar bahkan banyak melibatkan orang didalamnya dan menyakiti orang lain, misalnya dalam rumah tangga, persahabatan, percintaan seperti anak-anak muda zaman sekarang ini dan lain sebagainya. Jika kita dalam masalah cobalah untuk berfikir jernih dalam mengatasinya, astumkara masalah tersebut dapat kita selesaikan dengan baik dan tidak menyakiti orang lain.
2. Nang
Nang artinya ketenangan, untuk mencapai “Ning” (pikiran yang jernih) berdasarkan “Nang” atau ketenangan. Jika pikiran kita jernih dan tenang semua masalah dalam kehidupan dapat kita selesaikan atau pecahkan, jadi jika kita dalam menghadapi masalah atau sedang mendapatkan masalah sebisa mungkin kita harus berfikir jernih dan tenang.
Nāsti buddhir ayuktasya
Na cāyuktasya bhāvanā
Na cābhāvayatah śāntir
Aśāntasya kutah sukham
(Bhagawan Gita II. 66)

Artinya;
Tak ada kebijaksanaan pada pikiran yang tak terkendalikan dan juga tak ada kosentrasi yang dapat dilakukan dan juga tak ada kedamaian pada pikiran yang tak terpusatkan, sehingga bagaimana mungkin yang tanpa ketenangan dapat menikmati kebahagiaan, bukan?
Dalam sloka Bhagawan Gita diatas kita dapat menarik kesimpulan bahwa untuk mendapatkan kebahagian dan ketenangan kita harus dapat mengendalikan pikiran kita sendiri, karena dengan pikiran yang dapat dikendalikan kita dapat menyelesaikan masalah dalam kehidupan kita.
Kita sebagai umat hindu diajarkan dan sudah mengenal dengan adanya Tri Guna yang merupakan tiga sifat alami manusia yaitu tatwam, rajas, dan tamas. Pada Bhagawan Gita XIV dijelaskan mengenai tri guna yang lahir dari Prakriti dan merupakan sifat yang dominan dari sang Prakriti itu sendiri.
3. Nung
“Nung” diartikan “Keseimbangan”, kita harus menjaga keseimbangan atau keharmonisan dalam kehidupan ini baik itu dengan Sang Hyang Widi Wasa, alam semesta dan dengan sesama manusia, karena alam semesta dan manusia adalah ciptaan Hyang Widi Wasa.
Saha-yajnāh prajāh srstvā
Purovāca prajāpatih,
Anena prasavisyadhvam
Esa vo ‘stv ista-kāma-dhuk.
(Bhagawan Gita III. 10)
Artinya;
Sesungguhnya sejak dahulu dikatakan, Hyang Widi Wasa menciptakan manusia melalui yajnā, berkata: dengan (cara) ini engkau akan berkembang, sebagaimana sapi perah yang memenuhi keinginanmu (sendiri).

Sloka dalam Bhagawan Gita tersebut di atas Nampak ada tiga unsur yang saling beryadnya atau berhubungan untuk mendapatkanya yaitu terdiri dari: prajapatih (Hyang Widi Wase), prajah (rakyat atau manusia). Dalam hal ini di ibaratkan manusia itu sendiri tidak ubahnya seperti seekor lembu perahan yang akan dipera terus menerus untuk memenuhi keinginannya sendiri.
Menurut ajaran agama hindu menjalin hubungan yang harmonis ini dikenal dengan Tri Hita Karana yang dibagi menjadi tiga yaitu yang pertama Parayangan menjalin kerhamonisan dengan Hyang Widi Wase, karena kita merupakan ciptaan Hyang Widi Wase makanya wajib kita bersyukur kepada-Nya dengan melakukan yadnya dan perbuatan dharma, sehingga apa bila terwujudnya hubungan yang harmonis antara manusia dan Hyang Widi Wase maka manusia tersebut merupakan manusia yang kuat dan tahan terhadap tantangan atau masalah, selain karena kebaktianya atau kebijakannya juga karena pertoongan dari Hyang Widi Wasa.
Kedua Palemahan yaitu menjalin kerhamonisan dengan alam semesta atau bumi atau ibu pertiwi yang memangku kita selalu, demikian banyak bencana yang melanda bumi kita akhir-akhir seperti banjir, tanah longsor, global warming dan lainnya, ini merupakan salah satu bukti bahwa belum terwujudnya hubungan yang harmonis antara kita dengan lingkungan kita. Dengan apa yang telah terjadi di bumi ini marilah kita menjalin hubungan yang harmonis dengan menjaga dan merawat bumi kita ini, mungkin apabila kita menanam pepohonan bukan kita yang menikmati hasilnya namun anak-anak kita kelak yang akan menikmati hasilnya dan mari mulai sejak dini anak-anak kita ajarkan untuk menjaga dan merawat lingkungan ini sehingga terjalin hubungan yang harmonis.
Dan Tri Hita Karana yang terakhir atau yang ketiga adalah Pawongan yaitu menjalin hubungan yang harmonis dengan sesama. Sebagai umat hindu kita telah mengenal atau diajarkan Tat Tvam Asi yang artinya aku adalah engkau.
Kita sebagai manusia merupakan mahluk sosial, kita tidak dapat hidup sendiri tetapi saling menbutuhkan maka dari itu menjalin hubungan yang harmonis dengan sesama merupakan kebutuhan hidup kita yang paling mendasar.
4. Neng
Bagi anak-anak sekolah mungkin tidak asing lagi dengan kata Neng karena setiap masuk, istirahat dan pulang sekolah mereka selalu mendengan bunyil bel atau Neng. Neng disini diartikan sebagai “waktu” atau “kesabaran”.
5. Nong
Nong yaitu berarti “kematian”, dalam kehidupan ini kita harus belajar atau mempersiapkan diri untuk kematian karena semua orang didunia ini akan mati dan kita tidak tahu kapan kita akan dipanggil oleh Sang Hyang Widi Wasa, maka untuk itu kita harus memper siapkan diri jika suatu saat kita akan dipanggil oleh-Nya.
Read More......

Selasa, 22 Juni 2010

50 Persen Desa di Nusa Penida Dibelit Kemiskinan

6 desa yang ada di Nusa Penida, setengahnya atau 50 persen merupakan desa miskin. Kondisi geografis dan ‘ketiadaan’ air menjadi salah satu factor, kemiskinan akut diwilayah ini. Upaya pengangkatan mata air Guyangan dengan reservoir, sampai saat ini dirasakan belum maksimal oleh warga. Camat Nusa Penida, I Made Sudiarka Jaya ketika dikonfirmasi NusaBali, Minggu (20/6) tidak membantah hal tersebut. Sudiarka Jaya, menyatakan, memang air menjadi salah satu factor penghambat upaya penanggulangan kemiskinan di kecamatan yang berpenduduk sekitar 58 ribu jiwa tersebut. Pemerintah juga sudah berusaha mengangkat sumber air Guyangan. Namun sampai saat ini belum maksimal. “Jaringan belum masuk ke semua desa,” ungkap Sudiarka Jaya, camat asal Nusa Penida ini.

Pihaknya membenarkan, sering menerima pengaduan warga soal air, akibat belum maksimalnya jaringan pipa sumber air Guyangan. Karena sementara ini selain menanti pembangunan cubang (rencana mulai tahun ini dibangun 100 unit)- mau tak mau tetap menunggu proses jaringan air Guyangan selesai.

Berdasarkan data, 8 desa dari 16 desa di Nusa Penida merupakan desa miskin. Desa – desa tersebut, yakni Pejukutan, Tanglad, Batumadeg, Batukandik, Sekartaji, Klumpu, Bunga Mekar dan Sakti. Sedangkan total KK miskin dari data terakhir sebelum dilakukan evaluasi –hasil sensus tahun ini – sebanyak 3888 KK (13 ribu jiwa )

Selain mengangkat air Guyangan oleh Pemprov Bali, juga dilakukan upaya lain. Seperti system pertanian terintegrasi (sismantri)–memadukan pertanian lahan kering (tadah hujan) dengan peternakan. Sismantri kini baru masuk ke Desa Batukandik. Juga tahun ini dilakukan bedah rumah sebanyak 50 unit . Tersebar di semua kecamatan di Nusa Penida,- dominan di desa miskin tersebut. Per unit senilai Rp 26 juta. (by SEMARAPURA,NusaBali)
Read More......

Lahan Pertanian pun jadi Korban Pembangunan


Adanya banganan membuat proses pengairan sawah jadi terganggu. Konon bangunan itu akan dijadikan Hardy’s pusat kota.
Di tengah kota, di antara hingar bingarnya bangunan mewah yang kokoh berdiri bak jamur di lahan subur. Nampak jumlah sawah yang terisa tidak seberapa dibandingkan jumlah bangunan di sekitarnya. Pemandangan seperti ini jelas ada di Jalan Noja Saraswati, Denpasar.
Ketika saya berada di sana, yang jelas tergambar hanyalah pemukiman penduduk yang berbaur dengan bangunan mewah yang baru berdiri. Sesekali saya melihat beberapa sawah kekeringan seakan haus akan datangnya air. Kondisi seperti ini nampaknya mewarnai sisi jalan yang menghubungkan ke Badung Utara.
Setelah berkeliling menghampiri setiap lahan yang ada, tak satupun para petani yang ada beraktivitas. Kegiatan layaknya seorang petani mengolah lahan tidak tergambar. Ironis memang sawah yang semestinya mampu menghasilkan padi justru tebengkalai begitu saja.Jauh dengan kondisi di desa.
Lantaran tidak menemukan petani untuk diajak ngobrol, saya berusaha menemui warga yang kebetulan berdekatan dengan lahan kosong. Ia adalah seorang ibu yang kebetulan menjaga warung. Namanya Ni Nyoman Pujiati (65).
Dengan sopan ibu itu mempersilakan saya duduk di depan warungnya. Sambil merapikan warungnya. Ia mulai menceritakan perihal akan kondisi sawah di sebelah rumahnya.
”Sejatinya sawah yang ada di sebelah rumah itu merupakan laba pura,” ungkapnya. Dia menambahkan, “Dulunya sawah itu tidak seperti sekarang.”
Saya kembali bertanya tentang status pengolahan sekarang.
“Sekarang lahan itu diurus orang lain. Istilah Bali-nya “nandu”, kebetulan sekarang dia pulang ke Ubud karena ada upacara adat,” tuturnya lagi.
Saya kembali bertanya lebih jauh lagi tentang alasan kenapa lahan itu sampai tak terururs bahkan yang mengurus justru orang lain. Kembali ibu yang fasih Bahasa Indonesia itu mengungkapkan akan keterbatasan suplai air yang mengalir dari hulu seroja. Aliran itu dulunya memang menjadi andalan bagi petani untuk memberi supply ke tiap-tiap petak sawah.
Satu persatu ia menjelaskan alasan yang mendasar akan matinya lahan.
Menariknya yang menjadi kuat dugaaan akan perihal terpotongnya aliran tadi lantaran kokohnya sebuah bangunan yang baru berdiri. Sebuah pusat perbelanjaan ternama Hardy’s Grosir manjadikan biang kerok atas terputusnya irigasi yang memblokir aliran tersebut.
Warga sempat mencarikan solusi dengan membuat irigasi buatan dari pipa paralon. Keterbatasan biaya menjadikan kendala dalam upaya itu .Keinginan masyarakat pun jadi surut.
Dari hal atas aturan tentang alih fungsi lahan, saya pun mencari acuan apakah aktivitas pembangunan yang mengakibatkan alih fungsi lahan itu sebuah pelanggaran. Ternyata memang benar.
Pelaku alih fungsi lahan pertanian di seluruh wilayah Indonesia bakal terkena pidana maksimal 5 tahun penjara dan denda maksimal Rpl miliar. Hal ini akan ditentukan dalam peraturan pemerintah (PP) yang menjadi amanat Undang-undang No. 41 Tahun 2009 tentang Perlindungan Lahan Pertanian menurut koran Bisnis Indonesia edisi 5/3 2010.
Tapi, bagus di aturan memang belum tentu bagus dalam pelaksanaan.(by I Putu Eka Juni Artawan)
Read More......

Bali di Mata Generasi Muda Hari ini

Sebetulnya sejak sebelum menikah di kepala ini sudah ada niat untuk membahas masalah budaya Bali di mata generasi kini. Ide itu masih terngiang hingga hari ini. Awalnya calon ibu mertua (camer) saya yang tahu banyak masalah berkaitan dengan Bali, mencoba mengetes pengetahuan saya. Hasilnya bisa ditebak. Yang ada cuma bengong. Karena memang selain cerita yang tak pernah didengar dan dibaca juga ujiannya pakai bahasa Dewa, bahasa Bali tingkat paling atas.

Kondisi makin memburuk karena calon menantu tak jua mengerti apa maksud calon ibu mertua. Namun kondisi itu dengan segera terpupus saat mengajak orang tua saya alias calon besan main ke rumah camer. Bapak saya yang kelahiran 1942 ternyata tahu banyak dan mampu menimpali pengetahuan calon mertua. Malah sempet bikin bengong semua akan kemiripan dan kebenaran ceritanya itu.

Terus, apa yang bisa dipetik dari cerita di atas? Tentu saja perbedaan pengetahuan orang tua dan anaknya walaupun sang anak sudah berusaha ikut mendampingi kemana pun beliau pergi. “Tetap saja yang namanya pengetahuan lahir dari pengalaman,” kata Bapak saya.
Balik ke hal-hal yang berkaitan dengan budaya Bali. Boleh jadi di mata generasi muda hari ini budaya Bali tak lagi menjadi satu bacaan wajib yang mutlak harus diketahui. Mungkin karena tuntutan keseharian yang kini cenderung mengajarkan si anak berbahasa Indonesia yang baik dan benar dibanding sopan santun berbahasa Bali. Ini bertujuan agar si anak tak kelabakan saat menerima pelajaran di sekolah dasar nantinya.

Hal ini berdampak juga pada hal-hal yang gampang dicerna seperti kepercayaan dan larangan pada anak-anak yang barangkali sudah sangat jarang diberikan. Contohnya saja seperti cerita yang sering muncul di Majalah ‘Sarad’ yang bertajuk ‘Kone’.

Kalau mau dipilih yang menggelitik seperti larangan membeli jarum di malam hari atau jangan menyapu halaman saat gelap. Larangan ini mungkin karena pada zaman dahulu belum ada penerangan yang memadai, sehingga bisa saja yang namanya jarum atau pun barang berharga yang jatuh di halaman menjadi tak terlihat lagi dan cenderung hilang.
Bagaimana kalau hari ini? Apakah lantas swalayan tak boleh menjual jarum saat malam hari, begitupun cleaning service-nya tak boleh membersihkan lantai ketika malam?

Satu kekurangan generasi muda Bali tentu pada akarnya yang tak sekuat umat lain, di mana sejak kecil sudah ditanamkan cara berdoa sesuai agama yang dianut. Sungguh jarang melihat nak Bali (umumnya beragama Hindu) usia sekolah dasar melakukan kewajiban sembahyang tiga kali sehari. Pula saat pembelajaran keseharian yang jarang sekali mendapatkan cerita maupun kisah berbau Bali.
Anak-anak kini lebih dimanja televisi yang siap menayangkan sejuta film jepang maupun tema hantu, yang menyebabkan seorang anak kecil asli Bali tak lagi takut pada yang namanya leak, rangda dan barong ketimbang pocong maupun kuntilanak yang merupakan adaptasi cerita dan kepercayaan dari agama lain.

Hal lain yang patut disorot adalah pemberian nama anak yang tak lagi menggunakan pakem Bali seperti Putu, Made, Nyoman, Ketut, maupun Ni Luh yang sudah mendapatkan banyak pengaruh dari luar (seperti komentar Wayang Cengblonk). Ada satu ponakan yang orang tuanya menganut agama Hindu, tapi menamakan anaknya tanpa embel-embel nama Bali dan mengganti dengan nama Fitria, satu nama yang mencerminkan arti bagi agama lain. Mungkin belom terpikirkan bagaimana caranya nanti sang anak menulis namanya dengan huruf aksara Bali.
Kenapa tidak pakai pakem di atas? Ada yang bilang malu kalau anak punya nama kampungan. “Ndeso,” kata Mas Tukul. Juga dianggap tidak menjual di mata internasional nanti. Serta berbagai macam alasan pembenaran lainnya.

Walaupun memang diakui bahwa tak sedikit pula generasi muda hari ini melek hal-hal berbau Bali, namun pada kenyataannya keberadaan mereka tak mampu menonjolkan apa yang ingin diungkapkan.
Adanya majalah atau tabloid Bali di tengah ratusan tabloid berbau teknologi otomotif maupun gosip menjadikan majalah Bali tersebut hanya digemari kalangan tertentu serta umat Hindu yang tinggal di luar Bali. Pemberian informasi menggunakan teknologi pun kalau cermat bisa menemukan beberapa situs di dunia maya yang memuat budaya Bali, semacam iloveblue.com.

Terus apakah generasi muda Bali lainnya patut disalahkan karena kemampuan mereka tak sebanding dengan generasi terdahulu? Karena seringkali terdengar keluhan di kalangan generasi tua, bahwa generasi muda hari ini tak seindah generasi mereka zaman dahulu.

Jangan. Mungkin patut diingat bahwa ketidakmampuan generasi hari ini adalah buah dari kisah yang diberikan generasi sebelumnya. Jadi kalau memang menginginkan generasi muda hari ini tahu lebih banyak masalah adat dan budaya Bali, tidak ada salahnya menanamkan cerita dan asal usul Bali pada keturunan nanti.

Jangan malu jika ada yang menganggap bahwa Bali tak akan laku di masa datang. Karena jika memang keasliannya tetap terjaga, rasanya tak ada yang mampu membendung nuansa Bali di mata Internasional.(by pandek baik)
Read More......

Perjuangan Made Sudi si Penjual Canang


Nasib baik tidak berpihak pada Ni Made Sudi. Ia seorang pedagang canang yang saya temui di perempatan jalan Noja, Denpasar timur pekan lalu. Hari itu dia sedang berjualan canang.
Ia memiliki seorang suami dan dua orang putra. Sambil melihat beberapa kendaraan yang melintas di jalan raya, saya mulai mendekati Made dan menanyakan beberapa hal ringan.
Ia berasal dari Abiansemal, Kabupaten Badung dan tinggal di Noja. Saat saya bertemu dengan Made, ia didampingi putra sulungnya yang bernama Wayan. Wayan selalu membantu ibunya berjualan, karena ia juga tidak memiliki pekerjaan.
Suami Made juga tidak bekerja. Dia tidak bisa mengendarai sepeda motor ataupun sepeda gayung. Jadi, susah bagi suami Made untuk mencari pekerjaan lain, selain menjadi tukang bangunan di dekat rumahnya.
Sebelum bekerja menjadi pedagang canang, Made pernah bekerja di sebuah proyek menjadi seorang tukang bangunan. Selain itu, Made juga pernah bekerja menjadi pembantu rumah tangga. Semua pekerjaan itu ia lakukan dengan penuh suka cita karena tidak ada pekerjaan lain yang bisa ia lakukan lagi.
Dengan harapan tersisa, ia mencoba untuk bertahan dan berusaha menghidupi keluarganya meskipun dengan keadaan serba kekurangan. Dia memulai pekerjaannya menjadi seorang pedagang canang dengan modal Rp 100.000. Uang bantuan itu diberikan oleh kepala desa kepada warga yang kurang mampu di lingkungannya.
Hingga, akhirnya, Made mampu membuka sebuah kios kecil di perempatan jalan.
Ia memulai pekerjaannya tiap hari mulai pukul tiga pagi. Made memasak nasi dan lauk pauk seadanya untuk keluarganya. Setelah pekerjaan dapur selesai, ia beranjak mengerjakan pekerjaan rumah seperti membersihkan halaman di rumahnya.
Pukul tujuh pagi ia bersama putra sulungnya membuka kios kecil. Sambil menunggu pelanggan setia yang akan membeli canang, ia duduk-duduk sambil ngobrol bersama putranya. Sore hari ia ke Pasar Badung bersama putranya untuk membeli berbagai perlengkapan untuk membuat canang.
Cerita itu membuat saya tertegun dan larut di dalamnya. Ternyata, seperti itulah kehidupan sehari-hari seorang pedagang canang yang bernama Made.
Dengan pendapatan Rp 30.000 setiap hari, ia selalu cukupkan untuk kebutuhan hidupnya.
“Apa ibu tak pernah bosan bekerja seperti ini selama sembilan tahun?” tanya saya.
“Jika saya bosan dan berhenti dari pekerjaan ini, saya akan makan apa?” jawabnya sambil memperlihatkan wajah sedih. Ia berharap suatu saat pemerintah dapat membantu pedagang kaki lima seperti Made. Ia juga berharap mendapat pekerjaan yang lebih baik dari pada sekarang.
Itulah obrolan saya bersama seorang pedagang canang yang selalu mensyukuri semua yang telah didapatnya.(by Mei Rismawati)
Read More......