.

Selamat Datang di Blog Education_Life jangan lupa berikan comment dan komentar anda.

Selasa, 29 Juni 2010

Selain penampilan untuk menambah rasa percaya diri saat kita berkomunikasi dengan orang lain, kita harus memperhatikan kesehatan mulut. Jangan sampai penampilan kita sudah oke tetapi masalah muncul dari mulut kita yang bau.
Bau mulut atau halitosis atau dragon breath (nafas naga) seringkali menghinggapi sebagian besar orang. Hampir 90% penyebab dari bau mulut adalah adanya bakteri penghasil sulfur yang berada di dalam bagian mulut kita yang muncul sebagai akibat kurang terjaganya kebersihan gigi dan mulut, gigi berlubang atau adanya infeksi pada gusi.
Sedangkan penyebab yang lain karena adanya perubahan hormon, ganguan pada sistem pencernaan, sinusitis, infeksi amandel, bronchitis kronis, gangguan hati serta ginjal.Beberapa hal di bawah ini merupakan cara untuk menghilangkan bau mulut yang bisa kita lakukan:

  1. Jagalah kebersihan mulut dengan menyikat gigi minimal 2 kali sehari, atau lebih bagus lagi sikat gigi setelah habis makan untuk membersihkan sisa-sisa makanan yang menempel di gigi. Selain itu juga jaga kebersihan lidah dengan menggunakan alat khusus untuk mencegah penimbunan bakteri pada lidah.
  2. Bagi mereka yang menggunakan kawat gigi atau behel harus lebih ekstra menjaga kesehatan dan kebersihan mulut. Bersihkan sisa makanan yang menempel di kawat untuk mencegah munculnya bakteri.
  3. nakan dental floss atau benang gigi untuk membersihkan sela-sela antara dua gigi.
  4. ngan mengkonsumsi makanan yang memicu munculnya bau mulut seperti bawang merah, bawang putih, pete, dan jengkol. Perbanyak makan sayur-sayuran dan buah-buahan.
  5. Makan secara teratur, dengan teraturnya pola makan akan memperlancar produksi air ludah yang bisa mengurangi bau mulut.
  6. Kurangi stress, karena terbukti bisa memicu panas dalam tubuh yang bisa menyebabkan bau mulut.
  7. Minum air putih dalam jumlah yang cukup yang bisa menekan produksi asam lambung supaya tidak berlebihan, dan air putih juga baik untuk menjaga kesehatan dan kesegaran tubuh secara keseluruhan.
  8. Hindari merokok dan minum minuman keras, karena selain memicu bau mulut juga merusak kesehatan kita.
  9. Gunakan obat kumur setiap selesai menggosok gigi atau gunakan spray penyegar nafas yang banyak dijual bebas.
  10. Berkunjung ke dokter gigi setiap 6 bulan sekali untuk memeriksakan kesehatan gigi kita.
Dengan melakukan langkah-langkah ini bisa menghilangkan bau mulut, dan kita senantiasa percaya diri dalam berinteraksi dengan orang lain. Read More......

Senin, 28 Juni 2010

Susu Sebagai Sumber Kalsium

susu

Susu merupakan salah satu minuman sehat yang mengadung kalsium dalam jumlah yang banyak, yaitu sekitar 1.000 mg/liter. Selain mengandung kalsium, susu juga mengandung lemak, protein dan berbagai vitamin yang membuatnya menjadi pangan yang nyaris sempurna. The most nearly perfect food, begitulah yang merupakan pendapat dari para pakar pangan dunia dalam menilai keberadaan susu yang bermanfaat bagi kesehatan masyarakat dan keluarga. Sebab komposisi nutrisi cairan yang umumnya diperoleh dari hasil pemerahan hewan menyusui (kambing, sapi atau kerbau) nyaris lebgkap dan seimbang.


Susu dari berbagai sumber memiliki kandungan kalsium yang cukup banyak, misalnya setiap 100 gr bahan seperti susu kambing mengandung 98 mg, susu kerbau 216 mg, susu sapi 143 mg, susu bubuk ”full cream” 895 mg, susu bubuk skim 1.300 mg, dan keju 777 mg.


Meskipun susu mengandung banyak kalsium yang sangat diperlukan tubuh, namun bagi yang tidak suka minum susu tidak perlu takut kekurangan kalsium. Pasalnya, mineral makro ini bisa juga diperoleh dari beberapa jenis kacang-kacangan, umbi-umbian, sayur dan ikan.



Artikel Susu Sebagai Sumber Kalsium ini dipersembahkan oleh gayahidupsehat.org

Read More......

Menstruasi

menstruasi
Menstruasi atau datang bulan atau haid merupakan proses fisiologis yang terjadi dalam tubuh wanita dimana terjadi pelepasan dinding (endometrium) yang disertai dengan pendarahan dan biasanya terjadi rutin setiap bulan kecuali pada masa kehamilan.

Seorang wanita biasanya memiliki 2 ovarium yang masing-masing menyimpan sekitar 200,000 hingga 400,000 telur yang belum matang/folikel (follicles). Normalnya, hanya satu atau beberapa sel telur yang tumbuh pada setiap periode menstruasi dan sekitar hari ke 14 sebelum menstruasi berikutnya, ketika sel telur tersebut telah matang maka sel telur tersebut akan dilepaskan dari ovarium dan kemudian berjalan menuju tuba falopi untuk kemudian dibuahi. Proses pelepasan ini disebut dengan “OVULASI”.


Sel telur yang sudah matang tersebut menempel di dinding rahim untuk menunggu dibuahi oleh sel sperma. Dalam mempersiapkan proses pembuahan dinding sel membentuk lapisan yang mengandung banyak pembuluh darah. Apabila sel telur dibuahi oleh sperma maka akan terjadi proses awal dari kehamilan. Sedangkan apabila tidak terjadi proses pembuahan maka lapisan dinding rahim yang mengandung pembuluh darah tersebut akan menipis dan luruh keluar melalui mulut rahim dan vagina dalam bentuk darah, inilah yang disebut proses menstruasi atau haid atau datang bulan yang biasanya terjadi selama 3 sampai 7 hari.



Artikel Menstruasi ini dipersembahkan oleh gayahidupsehat.org

Read More......

Sabtu, 26 Juni 2010

Briket Arang Sampah Sebagai Bahan Bakar Alternatif

Sampah juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar. Memang belum lazim dilakukan, namun tak ada salahnya jika dicoba. Siapa tahu briket arang sampah ini bisa menghemat anggaran belanja bahan bakar sampai sekian ribu rupiah. Apalagi jika di sekitar kita terdapat tumpukan sampah yang menggunung dan sudah kering pula. Briket arang sampah ini biasanya hanya dapat dibuat dari sampah jenis rubbish. Itu pun yang tergolong ke dalam sampah tak mudah lapuk yang bisa terbakar. Contohnya adalah sampah-sampah kertas, kardus, kayu. Sampah jenis garbage juga bisa diikutsertakan, asalkan sudah kering. Contohnya adalah bekas daun pembungkus. Tentu saja sampah garbage yang basah dan tak mungkin bisa dikeringkan, tidak perlu dipaksakan untuk disertakan dalam pembuatan briket arang sampah ini. Karena selain tak akan hangus dan tak akan bisa menjadi arang, nantinya jelas akan menurunkan mutu briket arang.Jika kita ingin mencobanya barangkali bisa memilih salah satu dari beberapa cara pembuatan briket arang sampah seperti yang diuraikan di bawah ini:
Cara membuat briket arang sampah
Sesuai dengan namanya, dalam pembauatan briket arang model ini, daun tanaman (yang masih basah) memang sengaja dicampurkan untuk merekatkan briket arang sampah agar bisa dibentuk. Bahan pembuatan briket arang sampah ini sebaiknya terdiri atas 87.5% sampah kering yang bisa terbakar (persentase setelah sampah dibakar dan ditumbuk), dan 12.5% persen daun tanaman yang masih segar sebagai perekat (pesentase setelah daun ditumbuk). Cara membuatnya adalah sebagai berikut:

  1. Sampah kering dimasukkan ke dalam drum bekas sampai setebal 10 cm. Ingat, jangan dipadatkan! Sampah ini segera dibakar. Selanjutnya, setelah sampah pertama terbakar selama kurang lebih 15 menit, sampah ke-2 dimasukkan setebal 10 cm dan dibakar sampai habis, demikian seterusnya. Selama proses pembakaran ini, sampah perlu sekali-sekali diaduk agar semua sampah terbakar dengan sempurna.
  2. Untuk mengurangi masuknya oksigen ke dalam drum, mulut drum perlu agak ditutup. Dengan demikian, api tidak akan berkobar-kobar dan bakaran sampah akan mengeluarkan kepulan asap. Dengan cara pembakaran demikian diharapkan sampah akan menjadi arang dengan sempurna.
  3. Pembakaran diteruskan dan dilakukan persis seperti pada langkah (1) tadi sampai semua sampah habis. Sampah terakhir dibiarkan terus terbakar sampai selama 45-60 menit agar pembakarannya sempurna. Selanjutnya, arang sampah di dalam drum disiram air sampai tidak membara lagi.
  4. Kalau arang sampah di dalam drum sudah cukup dingin, segera dikeluarkan dari dalam drum dan ditampung di dalam alat penumbuk. Arang sampah dihaluskan.
  5. Di lain alat penumbuk, daun-daun tanaman yang akan dimanfaatkan sebagai perekat ditumbuk juga sampai lumat.
  6. Kedua bahan yang telah ditumbuk tadi (4 dan 5) dicampur jadi satu hingga benar-benar tercampur/menyatu. Campuran ini lalu dicetak. Bentuknya bisa apa saja, terserah/sesuai kesukaan kita. Bisa berbentuk bola-bola, bisa menyerupai kue putu, bisa berbentuk batangan, atau bahkan hanya berbentuk lempengan saja. Selanjutnya, dijemur sampai kering. Briket arang sampah telah bisa segera dimanfaatkan.
Referensi
http://mardhotillah.blog.friendster.com/
Read More......

Jumat, 25 Juni 2010

TATA NAMA DALAM BIOLOGI

Tata nama dalam biologi telah mengalami perubahan berkali-kali semenjak manusia mencatat berbagai jenis organisme. Plinius dari masa Kekaisaran Romawi telah menulis sejumlah nama tumbuhan dan hewan dalam ensiklopedia yang dibuatnya dalam bahasa Latin. Sistem penamaan organisme selanjutnya selalu menggunakan bahasa Latin dalam tradisi pencatatan Eropa. Hingga sekarang sukar dijumpai sistem penulisan nama organisme yang dipakai dalam tradisi Arab atau Tiongkok. Kemungkinan dalam tradisi ini penulisan nama menggunakan nama setempat (nama lokal). Keadaan berubah setelah cara penamaan yang lebih sistematik diperkenalkan oleh Carolus Linnaeus dalam kitab yang ditulisnya, Systema Naturae ("Sistematika Alamiah").Tata nama binomial (binomial berarti 'dua nama') merupakan aturan penamaan baku bagi semua organisme (makhluk hidup) yang terdiri dari dua kata dari sistem taksonomi (biologi), dengan mengambil nama genus dan nama spesies. Nama yang dipakai adalah nama baku yang diberikan dalam bahasa Latin atau bahasa lain yang dilatinkan. Aturan ini pada awalnya diterapkan untuk fungi, tumbuhan dan hewan oleh penyusunnya (Carolus Linnaeus), namun kemudian segera diterapkan untuk bakteri pula. Sebutan yang disepakati untuk nama ini adalah 'nama ilmiah' (scientific name). Awam seringkali menyebutnya sebagai "nama latin" meskipun istilah ini tidak tepat sepenuhnya, karena sebagian besar nama yang diberikan bukan istilah asli dalam bahasa latin melainkan nama yang diberikan oleh orang yang pertama kali memberi pertelaan atau deskripsi (disebut deskriptor) lalu dilatinkan.

Penamaan organisme pada saat ini diatur dalam Peraturan Internasional bagi Tata Nama Botani (ICBN) bagi tumbuhan, beberapa alga, fungi, dan lumut kerak, serta fosil tumbuhan; Peraturan Internasional bagi Tata Nama Zoologi (ICZN) bagi hewan dan fosil hewan; dan Peraturan Internasional bagi Tata Nama Prokariota (ICNP). Aturan penamaan dalam biologi, khususnya tumbuhan, tidak perlu dikacaukan dengan aturan lain yang berlaku bagi tanaman budidaya (Peraturan Internasional bagi Tata Nama Tanaman Budidaya, ICNCP).

Aturan penulisan

* Aturan penulisan dalam tatanama binomial selalu menempatkan nama ("epitet" dari epithet) genus di awal dan nama ("epitet") spesies mengikutinya.

* Nama genus SELALU diawali dengan huruf kapital (huruf besar, uppercase) dan nama spesies SELALU diawali dengan huruf biasa (huruf kecil, lowercase).

* Penulisan nama ini tidak mengikuti tipografi yang menyertainya (artinya, suatu teks yang semuanya menggunakan huruf kapital/balok, misalnya pada judul suatu naskah, tidak menjadikan penulisan nama ilmiah menjadi huruf kapital semua) kecuali untuk hal berikut:

1. Pada teks dengan huruf tegak (huruf latin), nama ilmiah ditulis dengan huruf miring (huruf italik), dan sebaliknya. Contoh: Glycine soja, Pavo muticus. Perlu diperhatikan bahwa cara penulisan ini adalah konvensi yang berlaku saat ini sejak awal abad ke-20. Sebelumnya, seperti yang dilakukan pula oleh Carolus Linnaeus, nama atau epitet spesies diawali dengan huruf besar jika diambil dari nama orang atau tempat.

2. Pada teks tulisan tangan, nama ilmiah diberi garis bawah yang terpisah untuk nama genus dan nama spesies.

* Nama lengkap (untuk hewan) atau singkatan (untuk tumbuhan) dari deskriptor boleh diberikan di belakang nama spesies, dan ditulis dengan huruf tegak (latin) atau tanpa garis bawah (jika tulisan tangan). Jika suatu spesies digolongkan dalam genus yang berbeda dari yang berlaku sekarang, nama deskriptor ditulis dalam tanda kurung. Contoh: Glycine max Merr., Passer domesticus (Linnaeus, 1978) — yang terakhir semula dimasukkan dalam genus Fringilla, sehingga diberi tanda kurung (parentesis).
* Pada penulisan teks yang menyertakan nama umum/trivial, nama ilmiah biasanya menyusul dan diletakkan dalam tanda kurung.

Contoh pada suatu judul: "PENGUJIAN DAYA TAHAN KEDELAI (Glycine max Merr.) TERHADAP BEBERAPA TINGKAT SALINITAS". (Penjelasan: Merr. adalah singkatan dari deskriptor (dalam contoh ini E.D. Merrill) yang hasil karyanya diakui untuk menggambarkan Glycine max. Nama Glycine max diberikan dalam judul karena ada spesies lain, Glycine soja, yang juga disebut kedelai.).

* Nama ilmiah ditulis lengkap apabila disebutkan pertama kali. Penyebutan selanjutnya cukup dengan mengambil huruf awal nama genus dan diberi titik lalu nama spesies secara lengkap. Contoh: Tumbuhan dengan bunga terbesar dapat ditemukan di hutan-hutan Bengkulu, yang dikenal sebagai padma raksasa (Rafflesia arnoldii). Di Pulau Jawa ditemukan pula kerabatnya, yang dikenal sebagai R. patma, dengan ukuran bunga yang lebih kecil.

Sebutan E. coli atau T. rex berasal dari konvensi ini.

* Singkatan "sp." (zoologi) atau "spec." (botani) digunakan jika nama spesies tidak dapat atau tidak perlu dijelaskan. Singkatan "spp." (zoologi dan botani) merupakan bentuk jamak. Contoh: Canis sp., berarti satu jenis dari genus Canis; Adiantum spp., berarti jenis-jenis Adiantum.

* Sering dikacaukan dengan singkatan sebelumnya adalah "ssp." (zoologi) atau "subsp." (botani) yang menunjukkan subspesies yang belum diidentifikasi. Singkatan ini berarti "subspesies", dan bentuk jamaknya "sspp." atau "subspp."

* Singkatan "cf." (dari confer) dipakai jika identifikasi nama belum pasti. Contoh: Corvus cf. splendens berarti "sejenis burung mirip dengan gagak (Corvus splendens) tapi belum dipastikan sama dengan spesies ini"
.* Penamaan fungi mengikuti penamaan tumbuhan.
* Tatanama binomial dikenal pula sebagai "Sistem Klasifikasi Binomial".
Read More......