.

Selamat Datang di Blog Education_Life jangan lupa berikan comment dan komentar anda.

Rabu, 12 Oktober 2011

Belajar Dari Simbol-Simbol Gamelan Bali Untuk Mendapatkan Kebahagiaan Dalam Kehidupan


Śaknotīhavia yah sodhum
Prāk śarīra-vimoksanāt,
Kāma-krodhodbhavam vegam
Saq yuktah sa sukhī narah.
(Bhagawad Gita, V. 23.)

Artinya;
“Dia yang mampu menahan kecenderungan keinginan dan amarah didunia ini, sebelum meninggalkan jasad raganya dia adalah yogi, dia adalah orang yang bahagia.”

Bagi orang yang mampu mengendalikan atau menahan segala gejolak emosi dan keinginan di dunia ini, dia telah mampu mewujudkan kedamaian dan kebahagiaan dalam kehidupan di dunia.

Di tengah perkembangan zaman yang sangat pesat, begitu banyak permasalah yang timbul di dunia ini. Manusia berbondong-bondong mencari jalan atau cara untuk mendapatkan kebahagian baik melalui jalan dharma maupun adharma, namun kebanyakan manusia tersesat dengan menggunakan cara atau jalan adharma karena tidak dapat mengendalikan keinginan untuk mendapatkan kebahagian di dunia yang sesaat. Begitu banyak cara atau jalan yang dapat kita gunakan di dunia ini untuk mendapat kebahagiaan.
Terlepas dari semua itu, kita sebagai umat hindu harus dapat memilih dan memilah mana yang merupakan cara atau jalan dharma maupun adharma untuk mencapai kebahagia. Dalam kitab suci agama hindu begitu banyak cara dan jalan dharma yang diajarkan pada kita, namun semua itu tergantung dari keyakinan dan kemampuan kita untuk mempelajari dan menjalankannya di dunia ini. Agama hindu merupakan agama yang tertua atau pertama kalinya dikenal oleh umat manusia khususnya di indonesia, walaupun demikian agama hindu merupakan agama yang fleksibel dan mampu mengikuti perkembangan zaman.
Sebelum kita terlena akan perkembangan zaman yang semakin berkembang pesat dan memanjakan kita dengan teknologi yang canggih, marilah kita melihat dan belajar dari alam dan simbol-simbol yang ada disekitar kita seperti salah satu dari sekian banyak simbol-simbol yang ada. Dari tulisan ini saya terinspirasi dari pewayangan yang judulnya Gatotkaca Menggugat.
Kita sebagai umat hindu tidak asing lagi dengan gamelan atau musik bali. Kita bahkan setiap hari raya atau odalan, hari-hari tertentu atau bahkan setiap hari kita mendengarkan gamelan. Bagi generasi muda umat hindu sekarang sejak kecil sudah dikenalkan bahkan memaikan alat musik gamelan sejak kecil, namun apakah mereka mengerti makna atau petuah dari bunyi gamelan itu? banyak generasi muda sekarang yang tidak mengerti dan memahami petuahnya atau bahkan orang tua juga ada yang tidak mengetahui makna atau petuah dari bunyi gamelan bali.
Disini kita akan membahas makna dan petuah dari bunyi gamelan bali. Bunyi pada gamelan bali mungkin banyak yang sudah mengetahui yaitu Ning, Nang, Nung, Neng, dan Nong. Mari kita bahas satu persatu dari bunyi gamelan tersebut.
1. Ning
Dalam kehidupan kita mencari kebahagian itu harus berdasarkan “Ning” yang berarti bersih atau jernih. Di dalam menjalankan kehidupan sehari-hari pikiran kita harus bersih atau jernih untuk menghadapi cobaan atau masalah yang kita hadapi dalam kehidupan ini. Karena dengan pikiran yang bersih dan jernihlah kita dapat mengatasi dan mencari jalan untuk memecahkan masalah atau mencari solusi yang baik serta selalu dalam jalan dharma. Banyak orang sekarang ini memecahkan masalah dengan cara kekeras dan pikiran yang kotor atau kalut, sehingga masalah yang kecil bisa menjadi besar bahkan banyak melibatkan orang didalamnya dan menyakiti orang lain, misalnya dalam rumah tangga, persahabatan, percintaan seperti anak-anak muda zaman sekarang ini dan lain sebagainya. Jika kita dalam masalah cobalah untuk berfikir jernih dalam mengatasinya, astumkara masalah tersebut dapat kita selesaikan dengan baik dan tidak menyakiti orang lain.
2. Nang
Nang artinya ketenangan, untuk mencapai “Ning” (pikiran yang jernih) berdasarkan “Nang” atau ketenangan. Jika pikiran kita jernih dan tenang semua masalah dalam kehidupan dapat kita selesaikan atau pecahkan, jadi jika kita dalam menghadapi masalah atau sedang mendapatkan masalah sebisa mungkin kita harus berfikir jernih dan tenang.
Nāsti buddhir ayuktasya
Na cāyuktasya bhāvanā
Na cābhāvayatah śāntir
Aśāntasya kutah sukham
(Bhagawan Gita II. 66)

Artinya;
Tak ada kebijaksanaan pada pikiran yang tak terkendalikan dan juga tak ada kosentrasi yang dapat dilakukan dan juga tak ada kedamaian pada pikiran yang tak terpusatkan, sehingga bagaimana mungkin yang tanpa ketenangan dapat menikmati kebahagiaan, bukan?
Dalam sloka Bhagawan Gita diatas kita dapat menarik kesimpulan bahwa untuk mendapatkan kebahagian dan ketenangan kita harus dapat mengendalikan pikiran kita sendiri, karena dengan pikiran yang dapat dikendalikan kita dapat menyelesaikan masalah dalam kehidupan kita.
Kita sebagai umat hindu diajarkan dan sudah mengenal dengan adanya Tri Guna yang merupakan tiga sifat alami manusia yaitu tatwam, rajas, dan tamas. Pada Bhagawan Gita XIV dijelaskan mengenai tri guna yang lahir dari Prakriti dan merupakan sifat yang dominan dari sang Prakriti itu sendiri.
3. Nung
“Nung” diartikan “Keseimbangan”, kita harus menjaga keseimbangan atau keharmonisan dalam kehidupan ini baik itu dengan Sang Hyang Widi Wasa, alam semesta dan dengan sesama manusia, karena alam semesta dan manusia adalah ciptaan Hyang Widi Wasa.
Saha-yajnāh prajāh srstvā
Purovāca prajāpatih,
Anena prasavisyadhvam
Esa vo ‘stv ista-kāma-dhuk.
(Bhagawan Gita III. 10)
Artinya;
Sesungguhnya sejak dahulu dikatakan, Hyang Widi Wasa menciptakan manusia melalui yajnā, berkata: dengan (cara) ini engkau akan berkembang, sebagaimana sapi perah yang memenuhi keinginanmu (sendiri).

Sloka dalam Bhagawan Gita tersebut di atas Nampak ada tiga unsur yang saling beryadnya atau berhubungan untuk mendapatkanya yaitu terdiri dari: prajapatih (Hyang Widi Wase), prajah (rakyat atau manusia). Dalam hal ini di ibaratkan manusia itu sendiri tidak ubahnya seperti seekor lembu perahan yang akan dipera terus menerus untuk memenuhi keinginannya sendiri.
Menurut ajaran agama hindu menjalin hubungan yang harmonis ini dikenal dengan Tri Hita Karana yang dibagi menjadi tiga yaitu yang pertama Parayangan menjalin kerhamonisan dengan Hyang Widi Wase, karena kita merupakan ciptaan Hyang Widi Wase makanya wajib kita bersyukur kepada-Nya dengan melakukan yadnya dan perbuatan dharma, sehingga apa bila terwujudnya hubungan yang harmonis antara manusia dan Hyang Widi Wase maka manusia tersebut merupakan manusia yang kuat dan tahan terhadap tantangan atau masalah, selain karena kebaktianya atau kebijakannya juga karena pertoongan dari Hyang Widi Wasa.
Kedua Palemahan yaitu menjalin kerhamonisan dengan alam semesta atau bumi atau ibu pertiwi yang memangku kita selalu, demikian banyak bencana yang melanda bumi kita akhir-akhir seperti banjir, tanah longsor, global warming dan lainnya, ini merupakan salah satu bukti bahwa belum terwujudnya hubungan yang harmonis antara kita dengan lingkungan kita. Dengan apa yang telah terjadi di bumi ini marilah kita menjalin hubungan yang harmonis dengan menjaga dan merawat bumi kita ini, mungkin apabila kita menanam pepohonan bukan kita yang menikmati hasilnya namun anak-anak kita kelak yang akan menikmati hasilnya dan mari mulai sejak dini anak-anak kita ajarkan untuk menjaga dan merawat lingkungan ini sehingga terjalin hubungan yang harmonis.
Dan Tri Hita Karana yang terakhir atau yang ketiga adalah Pawongan yaitu menjalin hubungan yang harmonis dengan sesama. Sebagai umat hindu kita telah mengenal atau diajarkan Tat Tvam Asi yang artinya aku adalah engkau.
Kita sebagai manusia merupakan mahluk sosial, kita tidak dapat hidup sendiri tetapi saling menbutuhkan maka dari itu menjalin hubungan yang harmonis dengan sesama merupakan kebutuhan hidup kita yang paling mendasar.
4. Neng
Bagi anak-anak sekolah mungkin tidak asing lagi dengan kata Neng karena setiap masuk, istirahat dan pulang sekolah mereka selalu mendengan bunyil bel atau Neng. Neng disini diartikan sebagai “waktu” atau “kesabaran”.
5. Nong
Nong yaitu berarti “kematian”, dalam kehidupan ini kita harus belajar atau mempersiapkan diri untuk kematian karena semua orang didunia ini akan mati dan kita tidak tahu kapan kita akan dipanggil oleh Sang Hyang Widi Wasa, maka untuk itu kita harus memper siapkan diri jika suatu saat kita akan dipanggil oleh-Nya.

0 komentar:

Posting Komentar